Kepemimpinan dan Kepedulian

Pakar kepemimpinan John C. Maxwell penulis “The 21 Irrefutable Laws of Leadership” (2001) mengatakan bahwa; “Orang lain tidak peduli dengan seberapa banyak yang anda ketahui (tentangnya), hingga mereka tahu seberapa jauh anda peduli (terhadapnya)”.

Artinya orang hanya peduli pada Anda, jika Anda peduli. Tak penting seluas apa pengetahuan yang Anda miliki. Jika itu tidak dimanfaatkan untuk kebaikan terhadap sesama.

Hal yang demikian itu sebenarnya sudah disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw, “Siapa yang tidak menyayangi, dia tidak disayangi.”

Semakin Anda menunjukkan kepedulian, maka akan semakin berpengaruh terhadap orang lain. sedangkan besar tidaknya kepemimpinan tergantung pengaruh yang dimilikinya.

Dengan begitu bisa dikatakan bahwa jiwa pemimpin ada pada mereka yang peduli terhadap sesamanya. Semakin besar tingkat kepedulian Anda, maka semakin besar jiwa kepemimpinan yang Anda miliki.

Kita bisa belajar pada Nabi Saw. Beliau adalah pemimpin besar (The Great Leader) yang amat peduli kepada para pengikutnya dan orang-orang di sekitarnya. Kepedulian nabi ditujukan kepada semua pihak yang diperlakukannya secara adil dan penuh kasih sayang.

Nabi adalah pemimpin ataupun sosok yang juga motivator. Beliau mengajak umatnya agar juga menjadi pemimpin. Hal ini bisa kita lihat dari pesan dan tuntunan beliau tentang kepedulian.

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Janganlah menzaliminya dan mengacuhkannya. Siapa yang membantu menutupi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu menutupi kebutuhannya. Siapa yang membebaskan seorang muslim dari kesulitan, niscaya Allah akan membebaskannya dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim niscaya Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat. (HR. Al Bukhari).

Al Qur’an mendorong kita agar menjadi pemimpin. Sehingga dalam doa disebutkan permohonan agar kita dijadikan pemimpin.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan ayat 74).

Setelah kita memohon kepada Allah agar istri anak dan keturunan kita mendapatkan hidayah Islam dan melakukan ketaatan sehingga menyenangkan hati.

Selanjutnya kita memohon agar dijadikan pemimpin bagi orang bertakwa. Pemimpin yang bertakwa ialah pemimpin yang bisa diteladani oleh generasi setelahnya. Karena setiap generasi meneladani generasi pemimpin sebelumnya.

Sekali lagi Islam menekankan agar kita menjadi pemimpin yang bisa diteladani. Sedangkan kepemimpinan (leadership) itu dibentuk melalui jiwa yang peduli terhadap sesama.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...