Kenapa Riya’-nya Arifin Lebih Baik daripada Ikhlasnya Murid

Riya’ itu berarti menampilkan amal. Dinamakan riya’ karena bertujuan agar dilihat. Para Arifin tatkala memperlihatkan amal mereka ialah untuk mengajarkan manusia. Supaya orang-orang bisa mengetahui hukumnya. Juga untuk mengajarkan agama pada generasi selanjutnya.

Itu semua dilakukan dengan cara memperlihatkan amalnya. Tetapi bukan berarti hati mereka menghadap kepada selain Allah Swt. Karena jika qalbu sudah tidak menghadap Allah maka mereka keluar dari barisan Arifin. Sedangkan yang dibincangkan pada saat ini ialah Arifin yang terkait qalbunya dengan Allah.

Berapa banyak imam yang karena kehendak nafsunya sendiri memilih untuk beruzlah (mengasingkan diri) dan menjauhi manusia. Lalu diperintahkan kepada mereka itu untuk bergaul dengan manusia dan mengajarnya. Mereka sebenarnya ingin menyendiri dan menjauh dari manusia akan tetapi Allah ingin mereka mendapatkan sesuatu yang lebih mulia.

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Siapa yang menyendiri dari manusia, maka itu baik. Dan siapa yang bergaul dan sabar menghadapi gangguan mereka, maka itu lebih baik”.

Syekh Ali Jum’ah berkata bahwa, menyendiri memang terkadang baik untuk seseorang terhindar dari fitnah. Akan tetapi para nabi memilih untuk bergaul dengan manusia dan sabar dengan perlakukan buruk manusia. Para nabi mengajarkan manusia, menyampaikan dakwah kepada mereka. Sebagaimana Nabi bersabda “sampaikanlah dariku walau satu ayat”.

Inilah yang dimaksud dengan riya’-nya Arifin. Mereka memperlihatkan amalannya hingga manusia bisa belajar padanya dan agama bisa sampai pada generasi selanjutnya. Sehingga orang biasa dan orang hebat bisa melihat amal ibadahnya sebagai pelajaran. Bahkan bisa dijadikan sebagai hujjah olah orang yang punya kuasa yang mengambil pelajaran darinya.

Sedangkan ikhlasnya murid, ialah orang yang menahan diri dari manusia. Tidak ingin memperlihatkan amal ibadahnya. Namun terkadang mereka merasa bangga dengan dirinya (‘ujub). Ujub ini derajatnya lebih rendah dari niat untuk mengajarkan manusia dan sabar menghadapi perilaku buruk manusia.

Maka dengan sebab inilah riya’-nya Arifin dengan makna tersebut, -yakni yang qalbunya tetap bergantung pada Allah- itu lebih baik dan lebih mulia dari ikhlasnya murid. Riya’ tersebut lebih baik ketimbang ikhlas beribadah ketika dalam kesendirian dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Walaupun ibadah tersebut dilakukan tanpa riya’ dan ‘ujub.

Maka Arifin yang memperlihatkan amalnya itu lebih baik ketimbang orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. “Inilah maksud ucapan Abu Sa’id Al Kharraz. Bahwa riya’-nya Arifin (ulama ma’rifat) lebih baik daripada murid,” ucap mantan Mufti Mesir tersebut.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...