Kebenaran Pandangan dan Firasat Seorang Wali

Apa yang akan kita lakukan ketika bertemu dan bertawajjuh dengan seorang Waliyullah atau orang yang masyhur akan kewaliannya?

Jawabannya adalah dengan membersihkan dan meyucikan diri kita dari berbagai macam kotoran hati.

Mengapa demikian? karena pandangan seorang wali tidak hanya kepada dzahir tapi juga batin. Oleh karenanya, haliyah atau keadaan bathiniyah seseorang ketika tertimpa dosa itu ibarat baju putih tertimpa tumpahan tinta berwarna hitam, maka akan berbekas dan bernoda.

Pandangan mata yang normal pasti akan mampu melihat noda yang melekat pada baju yang putih. Demikianlah para Waliyullah pun juga bisa melihat kotoran hati sebab dosa yang telah seseorang lakukan. Mengapa demikian? Karena pandangan dan firasat seorang wali benar adanya.

Kata firasat pernah disinggung oleh baginda Nabi Muhammad Saw dalam haditsnya,

(اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله (الحديث

Artinya: “Takutlah kalian akan firasatnya orang mukmin, karena sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allah SWT.”

Dalam meninjau terminologi kata firasah (firasat), Imam al-Munawi dalam kitabnya Faidhul Qadir menyatakan,

الفراسة الاطلاع على ما في الضمائر

Artinya: firasat adalah mengetahui terhadap perkara yang tersimpan dalam hati, perasaan maupun bathin seseorang.

Ada juga sebagian ulama mengatakan bahwa firasat adalah tersingkapnya keyakinan dan terlihatnya sesuatu yang ghaib.

Berbeda dengan al-Imam Ibnu Raghib, beliau memaknai firasat adalah mengambil petunjuk (Istidlal) dengan melihat kondisi seseorang, bentuknya, warnanya dan juga perkataannya atas ketinggian akhlaqnya, keutamaannya maupun kehinaan yang ada pada dirinya.

Terlepas dari perbedaan definisi firasat di atas, kita harus meyakini bahwa pandangan dan firasat seorang wali itu adalah suatu bentuk kebenaran dan benar adanya. Karena tak semua orang bisa menggapainya mengingat kriteria dan syarat yang sangat ketat untuk memperoleh sebuah pandangan dan firasat yang benar.

Syarat Punya Firasat Yang Tepat

Dalam kitabnya Faidhul Qadir Imam al-Munawi mendeskripsikan kriteria atau syarat tercapainya kebenaran sebuah firasat dengan mengutip sebagian pendapat Ulama’:

من غض بصره عن المحارم وكف نفسه عن الشهوات وعمر باطنه بالمراقبة وتعود أكل الحلال لم تخطئ فراسته

Arti dari pernyataan Imam al-Munawi ini adalah siapa yang menjaga pandangan dari perkara haram, menahan dirinya dari syahwat, memakmurkan batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi) dan memakan makanan yang halal, maka firasatnya tak meleset.

Hal yang tak bisa kita pungkiri, bahwa ada sebagian orang yang menyangsikan akan kebenaran firasat dan pandangan yang terjadi pada seorang wali.

Sebabnya bermacam-macam, adakalanya mereka tidak mempercayai akan adanya karomah pada seorang wali. Sebagian dari mereka para ekstrimis mungkin juga ada yang tidak percaya dengan adanya waliyullah.

Anggapan semacam ini tentu tidak benar karena sebagian bukti benarnya firasat dan pandangan seorang wali sudah termaktub dalam al-Qur’an:

وَلَوْ نَشَآءُ لأرَيْنَـٰكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَـٰهُمْۚ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِى لَحْنِ ٱلْقَوْلِۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَـٰلَكُمْ

Artinya: “Dan andaikan Kami kehendaki, niscaya akan Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya, dan kamu sungguh akan mengenal mereka dari kiasan perkataan mereka dan Allah Maha Mengetahui perbuatan mu”. (QS. Muhammad: 30).

Ayat ini menjadi penegas bahwa ketika Allah Swt menghendaki untuk memperlihatkan sesuatu yang samar kepada hambanya. Niscaya sesuatu yang samar tersebut akan menjadi tampak jelas. Tentunya dengan kriteria yang sudah tertulis pada alinea di atas.

Sebagaimana Rasulullah Saw diperlihatkan oleh Allah akan keadaan orang munafik dengan sebuah tanda kegelapan yang ada pada wajahnya.

Demikian pula ditegaskan dalam Kitab Tafsir al-Alusi karya al-Imam al-Alusi al-Baghdadi memperjelas ayat di atas. Bahwa seorang mukmin memandang dengan pandangan firasat, dan orang ‘arif memandang dengan pandangan hakikat sedangkan Nabi Muhammad Saw memandang dengan pandangan Allah Swt.

Firasat Sayyidina Utsman

As-Syekh Mahfudz at-Tarmasi dalam kitabnya yang berjudul Bughyatul Adzkiya’ fil Bahtsi ‘an Karamatil Awliya’ mencuplik sebuah kisah menarik perihal firasat bathin dan pandangan para Waliyullah.

Beliau menceritakan Kisah Sayyidina ‘Utsman RA. Suatu ketika ada seorang laki-laki menghadap kepada Sayyidina ‘Utsman ra. Sewaktu di perjalanan laki-laki tersebut bertemu dengan seorang perempuan yang lumayan cantik sehingga perempuan tersebut membayang-bayangi pikirannya.

Sesampainya dia di hadapan Sayyidinina ‘Utsman ra, beliau (Sayyidina ‘Utsman) langsung berkata, “ada salah seorang diantara kalian yang masuk kerumah ini dan pada kedua matanya nampak bekas dari perzinahan.”

Kemudian si laki-laki berkata, “apakah ada wahyu yang turun sesudah Rasulullah Saw?” Sayyidina ‘Utsman menjawab, “tidak, melainkan ini adalah firasat”.

Dalam menanggapi peristiwa ini, Syekh Mahfudz at-Tarmasi memberikan sebuah uraian. Bahwa tujuan Sayyidina ‘Utsman RA menampakkan firasatnya tersebut tak lain adalah sebagai ta’dib (pembelajaran etika). Sekaligus larangan dan peringatan bagi si laki-laki tersebut untuk meninggalkan perbuatan jeleknya.

Penting kita ketahui, bahwa ketika hati seseorang telah bersih dan jernih dari segala macam kotoran, maka pandangannya tak lain adalah pandangan dengan cahaya Allah SWT.

Dengan demikian pandangan mereka para Waliyullah tidak akan tertuju kepada sifat-sifat yang keruh dalam hati melainkan mereka mengetahuinya.

Oleh karena itu, maqamat dalam hal ini berbeda-beda, sebagian dari mereka ada yang mengetahui sebuah kotoran dan kekeruhan di hati seseorang tapi tak tahu dari mana asal dan pangkalnya. Sebagian dari mereka ada yang lebih tinggi maqamnya, mereka inilah yang bisa mengetahui kotoran dan kekeruhan di hati seseorang dan juga tahu dari mana asalnya sebagaimana pangkat inilah yang dimiliki oleh Sayyidina ‘Utsman RA.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa kebenaran pandangan dan firasat tidak akan terjadi kecuali kepada hamba yang hatinya sudah benar-benar suci dan bersih dari berbagai macam kotoran. Wallaahu a’lamu bis Shawab.

Penulis: Alfan Jamil (MATAN Universitas Nurul Jadid)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...