Kapan Anak Boleh Dikenalkan pada Gadget?

Kapan sebaiknya anak dikenalkan gadget? Pertanyaan ini sering kali muncul di benak orang tua yang memiliki anak. Jawaban sederahananya tentu Anda boleh mengenalkan gadget pada anak saat ia siap.

Lalu kapan anak bisa dibilang sudah siap? Faktanya sering terjadi miskonsepsi, bahwa orang tua menganggap anak itu siap ketika ia mampu memencet dan memainkan gadget.

Padahal gadget memang dirancang agar mudah dipelajari dan dijalankan oleh penggunanya termasuk oleh anak. Sehingga ketika anak bisa memakai gadget itu bukan berarti bahwa anak Anda sudah dikatakan siap. Tetapi baru sekedar terampil secara motorik memakai gadget.

Kesiapan Anak

Kesiapan diri anak diperbolehkan untuk memakai gadget bukan hanya dilihat dari kesiapan secara motoric. Justru anak itu dilihat dari kesiapannya secara sosial, emosional serta kognitif. Jika itu menjadi patokan, maka yang terjadi kebanyakan biasanya anak belum siap sama sekali.

Psikolog Najeela Shihab, mengatakan bahwa anak di bawah 2 tahun tidak direkomdesikan memakai gadget. Karena anak pada usia tersebut belum memerlukan gadget. Anak pada usia itu justru lebih banyak membutuhkan stimulus yang bersifat sensorik dan motorik dibandingkan belajar atau memakai gadget. Kecuali dalam situasi khusus yang juga membutuhkan pendampingan.

“Anak lebih membutuhkan interaksi yang intens, butuh terlibat dalam percakapan dengan orang. Anak membutuhkan tatapan mata langsung bukan tatapan mata karakter yang ada di layer gadget,” katanya.

Jika anak sudah memasuki usia pra sekolah, maka gadget menjadi sebagian pengalaman anak Anda. Karena gadget bisa dijadikan sebagai alat bermain dan alat belajar.

Menyiapkan Anak Cerdas Digital

Cara mempersiapkan anak yang cerdas digital, maka Anda sebagai orang tua perlu membuat kesepakatan dengan anak. Kesepakatan yang membuat penggunaan gadget menjadi disiplin.

Pertama, gadget bukanlah milik anak. Maka Anda tidak berkewajiban memberikan gadget kepada anak. Tetapi sejatinya orang tua mempersiapkan anak agar siap menggunakan dan bertanggung jawab terhadap apapun yang diberikan orang tua kepada anak. Baik itu gadget, mainan, buku, dan lain sebagainya.

Kedua, karena gadget itu bukan milik anak, maka Anda sebagai orang tua berhak mengatur penggunannya. Bukan memberikan gadget pada anak dan membebaskannya. Seperti kapan gadget boleh dipakai, password yang digunakan di gadget. Anda juga perlu memahami bahwa ini bukan sebagai bentuk tidak menjaga privasi. Tapi bentuk bimbingan orang tua dan jadikan keterbukaan ini sebagai proses belajar. Agar anak nantinya bisa siap menggunakan gadget dengan semestinya.

Sehingga anak bisa belajar bertanggung jawab, belajar memilah informasi, mana yang penting, mana yang baik dan diperlukan. Anak juga perlu belajar bagaimana bersosialisasi di sosial media, dan itu semua memerlukan keterlibatan orang tua.

Ketiga, yang perlu diperhatikan adalah bahwa semua platform ataupun aplikasi itu memiliki user agreement. User agreement ini sudah dirancang dengan pemahaman bahwa alat atau aplikasi tertentu cocok untuk usia tertentu. Ada sistem algoritma yang canggih di balik setiap aplikasi. Sehingga sudah sewajarnya Anda ataupun anak tidak memalsukan data. Karena bisa punya implikasi yang panjang. Misalnya jika Anda memalsukan data saat menyetujui user agreement, anak akan melihat bahwa kebohongan itu wajar dan aplikasi itu bisa merusak anak Anda karena memang belum usianya.

Tugas utama orang tua adalah mempersiapkan anak siap untuk menghadapi apapun yang akan dihadapinya. Mempersiapkan anak untuk masuk sekolah, mempersiapkan anak ke dokter, mempersiapkan anak ketemu teman baru. Maka sepatutnya juga orang tua mempersiapkan anak untuk cerdas di dunia digital.

Orang tua harus betul-betul terlibat, bukan justru meletakkan dunia digital ini sebagai pengganti peran orang tua. Sehingga tak ada alasan bahwa orang tua itu gaptek atau anaknya lebih canggih. Karena anak akan berhadapan dengan resiko-resiko. Seperti resiko keamanan, resiko tidak bisa mendapatkan manfaat yang optimal dari dunia digital serta tidak bisa belajar yang efektif dari dunia digital.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...