Ismail Fahmi dan Drone Emprit, Mengawasi Indonesia dari Angkasa

Hari ini tampaknya sebagian besar aktivitas seperti sosial, ekonomi, politik, kebijakan, hingga bisnis kerap menjadikan tren sebagai referensi. Tren dimaksud bisa bersumber dari media konvensional ataupun media sosial yang merupakan potret kondisi masyarakat.

Untuk mengetahui trend yang terjadi, saat ini ada sejumlah aplikasi yang dibuat, salah satunya karya anak negeri bernama aplikasi “Drone Emprit”.

Fungsi aplikasi Drone Emprit adalah melakukan monitor dan analisa media sosial dengan berbasis big data.

Drone Emprit menggunakan keahlian artificial intelligence (AI) dan natural learning process (NLP).

Aplikasi tersebut dinilai mampu menyajikan peta analisis media sosial, misalnya terkait dari mana sumber hoaks menyebar, siapa pendengung pertamanya dan siapa grupnya.

Di era post truth dan kencangnya arus informasi sekarang, keberadaan Drone Emprit menjadi sangat bermanfaat.

Siapa sosok di balik Drone Emprit?

Adalah Ismail Fahmi. Sosok yang cukup aktif bermedia sosial ini sekarang juga kerap menjadi rujukan media terkait simpang siur informasi di media sosial. Baca juga >>

Ismail Fahmi adalah pria kelahiran desa Kenep, Bojonegoro tahun 1974. Setelah lulus dari SMAN 1 Bojonegoro ia melanjutkan studi S-1 jurusan teknik elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB), lalu lanjut studi S2 dan S3 bidang sains informasi di Universitas Groningen, Belanda.

Drone Emprit sebetulnya sudah dikembangkan Ismail sejak tahun 2009 ketika dia masih studi S3 di Groningen.

Saat itu aplikasi ini dibuat di sela-sela kesibukannya hidup di Belanda. Dulu namanya masih ‘moonlighting’. Hal ini karena pengerjaan aplikasi tersebut dilakukan saat malam hari antara pukul 11 malam hingga 3 pagi. Sebab, pagi harinya dia harus pergi ke kantor.

Sepuluh tahun Ismail belajar di Belanda dan pulang ke Indonesia pada 2014. Di Tanah Air ia lalu melanjutkan proyek aplikasinya, dan lahirlah nama ‘Drone Emprit’ pada tahun 2016.

Menurut dia, Drone Emprit memiliki makna semangat menjaga objektivitas sebuah informasi, yaitu “we don’t claim to be neutral, but we insist on being truthful.”

Karena itu, dengan Drone Empritnya dia terus berupaya agar masyarakat tak mudah termakan propaganda atau hoaks yang berasal dari buzzer atau influencer di media sosial.

Dia juga berupaya tetap menjaga objektivitas informasi. Tidak membela salah satu kubu.

Tapi karena berupaya tidak ikut ke mana-mana, justru dia seringkali mendapat serangan dari dua arah. Ketika kubu A terbongkar sisi negatifnya, mereka marah. Kubu B memuji. Tapi di lain waktu bisa sebaliknya. Tak jarang situs Drone Emprit miliknya pun dicoba diretas sejumlah orang. Baca juga >>

Sejak SMA, Ismail memang sudah memiliki ketertarikan di dunia digital. Dia ingat, dulu pernah membeli buku pemrograman komputer di toko buku. Buku itu dia pelajari dengan tekun.

Belajar dari buku itu, dia berhasil membuat program pertama berupa sistem aplikasi chatting semacam WhatsApp meskipun hanya bersifat offline.

Ketertarikannya di dunia digital dan pemrograman lalu berhasil mengantarkannya untuk belajar ke ITB dan Belanda.

Saat media sosial menjadi “raja”, dilengkapi fitur sharing yang memudahkan berita tersebar dengan cepat, tak dapat dihindari hoaks pun tersebar dengan mudah dan cepat.

Butuh pengawasan. Dan, Drone Emprit mampu melakukannya. Kementerian Komunikasi dan Informatika pun memuji bahwa penggunaan Drone Emprit merupakan salah satu langkah merawat Indonesia dari angkasa.

#ismailfahmi #droneemprit #posttruth

Baca Lainnya
Komentar
Loading...