Ini Kisah-kisah Luar Biasa Ulama Terdahulu Berburu Ilmu

Berburu ilmu bagi para ulama terdahulu adalah perjuangan yang sangat berat dan heroik bahkan boleh dikatakan hampir mustahil jika dilakukan di era sekarang, meskipun teknologi sudah banyak membantu.

Sebab itu, tak mengherankan jika karya-karya ulama terdahulu begitu legendaris, abadi, terus dipelajari hingga berabad-abad kemudian.

Bagaimana mereka berjuang dengan gigih berburu ilmu? Berikut ini beberapa kisahnya:

Imam Al-Bukhari

Siapa tak kenal Imam Al-Bukhari? Seorang perawi atau periwayat hadits yang dikenal paling tinggi level kesahihannya. Beliau hidup antara tahun 194 H hingga 256 H.

Shahih Bukhari. (Wikipedia)

Imam Al-Bukhari menyusun sebuah kitab hadits bernama Shahih Bukhari. Kitab ini memuat lebih dari 7.000 hadits termasuk yang diulang di dalam 97 jilid buku.

Di kalangan muslim Sunni, kitab ini adalah salah satu yang terbaik, karena Imam Al-Bukhari menggunakan kriteria yang sangat ketat dalam menyeleksi hadits-haditsnya. Beliau menghabiskan waktu 16 tahun untuk menyusun kitabnya.

Dalam menyusunnya, beliau keluar masuk perkampungan, menyusuri ratusan kota, dari satu negara ke negara lain. Dan jangan bayangkan kondisi waktu itu seperti sekarang yang sudah ada kendaraan bermotor atau pesawat terbang.

Perjalanan paling spektakuler adalah ketika beliau menempuh perjalanan dari Mesir ke Khurasan. Tentu saja perjalanan yang melelahkan, namun membahagiakan. Karena beliau sukses mengumpulkan tak kurang dari 600 ribu hadits yang 7.000 di antaranya masuk dalam kitab yang disusunnya.

Yang paling luar biasa, menurut Imam Adz-Dzahabi, Imam Al-Bukhari setiap kali akan menulis satu hadits, beliau mandi dan melakukan shalat sunah dua rakaat. Bayangkan, jika ada 600 ribu hadits saja, minimal beliau melakukan shalat sunah 12 ribu rakaat.

Mungkinkah dilakukan oleh penulis di masa sekarang?

Imam Muslim

Perawi hadits lain yang level kesahihannya tertinggi selain Imam Bukhari adalah Imam Muslim. Derajat beliau setingkat di bawah Imam Al-Bukhari. Makanya, para ulama menyebut dua kitab hadits sahih keduanya dengan sebutan ‘shahihain’ alias dua kitab shahih.

Shahih Muslim. (Wikipedia)

Imam Muslim berburu hadits shahih sejak usia dini, kurang dari 15 tahun. Di usia 10 tahun beliau sering datang dan berguru kepada seorang ahli hadits bernama Imam Ad-Dakhili. Setahun kemudian, beliau mulai menghafal hadits-hadits Nabi Saw sekaligus mulai mengoreksi sejumlah kesalahan dari gurunya yang keliru menyebut periwayatan hadits.

Selain Ad-Dakhili, Imam Muslim juga berguru kepada banyak ulama di berbagai tempat dan negara. Beliau berpetualang untuk mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah hadits. Beliau pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lain.

Bahkan, beliau harus bolak-balik ke Baghdad untuk belajar dan memastikan hadits-hadits yang dikumpulkannya.

Imam Muslim meriwayatkan puluhan ribu hadits. Namun yang dimuat dalam Shahih Muslim berjumlah sekitar 3.030 hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan pengulangan jumlahnya sekitar 10.000 hadits.

Namun sebetulnya dalam proses penyusunan kitab beliau mengumpulkan sekitar 300 ribu hadits. Bayangkan saja, bagaimana beliau menyortir hadits-hadits tersebut selama 15 tahun dengan ketelitian dan kecermatan. Tanpa teknologi canggih atau bantuan software seperti saat ini.

Imam Asy-Syafi’i

Umat Islam Indonesia tentu tidak asing dengan Imam Syafi’i. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Idris As Syafi’i. Beliau ulama besar yang lahir di Gaza, Palestina tahun 150 H.

Kitab Al-Umm karya Imam Asy-Syafi’i. (salihkitaplar.com)

Beliau menuntut ilmu sejak masa kecil di Mekah, karena saat usianya 2 tahun, ibunya membawanya dari Gaza ke kota suci itu. Imam Syafi’i kecil hidup dalam kekurangan dan kesempitan, tapi semangatnya untuk belajar ilmu sangat kuat.

Beliau rajin mencatat apapun ilmu yang didapat dari gurunya. Bahkan dalam kondisi keterbatasan ekonomi sekalipun. Beliau mencatat menggunakan tulang-tulang dan kertas bekas sehingga memenuhi rumahnya yang sederhana. Namun, karena rumahnya dipenuhi catatan beliau akhirnya memutuskan untuk menghafal semua ilmunya.

Oleh karena itu, saat usianya 9 tahun beliau telah hafal Alquran, bahkan menurut riwayat, beliau sempat 16 kali khatam Alquran dalam perjalanan Mekah-Madinah kala itu. Tidak hanya Alquran, setahun kemudian, kitab “Al-Muwatha’” karangan Imam Malik yang berisi 1.720 hadist juga dihafalnya.

Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali memiliki cerita yang tak kalah heroik dalam perjalanan menuntut ilmu. Beliau mencari ilmu dalam kesedihan dan kepahitan.

Kitab Ihya Ulumuddin. (Wikipedia)

Terlahir dari keluarga miskin, Al-Ghazali berangkat ke sekolah dengan uang saku pas-pasan. Sekolahnya gratis. Bahkan sekali waktu, ia mengaku bahwa salah satu motivasinya berangkat ke sekolah adalah agar mendapat makanan. Karena di rumahnya ia tidak pernah menjumpai makanan selezat di sekolahnya.

Beliau belajar dengan sangat tekun. Mempelajari ilmu fiqih pada teman ayahnya sekaligus orangtua angkatnya, Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Rozakani.

Beliau juga belajar kepada Imam Abi Nasar al-Ismaili di negeri Jurjan. Setelah itu, melanjutkan perjalanan ke Nisafur untuk menimba ilmu pada Al-Juwaini, guru besar di Madrasah Nizhamiyah Nisafur.

Dengan kegigihannya, beliau mampu menguasai ilmu-ilmu seperti ilmu mantiq (logika), filsafat serta fiqih mazhab Syafi’i. Karyanya, Ihya Ulumuddin sangat populer di pesantren-pesantren Nusantara.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...