Ini Fakta Sejarah Eratnya Hubungan Turki Utsmani dengan Kesultanan Aceh

Sebuah sinetron Turki berjudul “Muhtesem Yüzyil” yang artinya “Abad Kejayaan” sempat viral di kalangan muslim Indonesia sekitar tahun 2014.

Selain mengisahkan tentang sejarah kejayaan Kesultanan Turki Utsmani, yang menarik dalam sinetron tersebut dikisahkan hubungan diplomatik yang erat Turki Utsmani dengan Kesultanan Aceh.

Sinetron lebih banyak menceritakan kehidupan Sultan Suleiman I, pemimpin Kesultanan Utsmani atau Ottoman Empire kala itu.

Digambarkan, bahwa Kesultanan Utsmani saat itu merupakan negara besar yang berpengaruh di Eropa, memiliki kekuatan militer yang tangguh dan dengan meriam raksasa yang menakutkan bangsa Eropa saat itu.

Berikut ini fakta-fakta sejarah yang jarang diketahui tentang kedekatan hubungan Kesultanan Turki Utsmani dengan Kesultanan Aceh.

Catatan sejarah ini pernah diungkap, salah satunya oleh Ismail Hakki Goskoy dalam artikel berjudul “Ottoman-Aceh relations as documented in Turkish sources” yang mendasarkan tulisannya berdasarkan arsip dokumen-dokumen resmi Kesultanan Utsmani.

Pertama, Melawan Portugis

Kesultanan Aceh Darussalam berdiri sejak abad ke-16. Waktu itu dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Kerajaan Aceh sangat berpengaruh terutama di pulau Sumatera.

Saat dipimpin Sultan Alauddin al-Kahhar Kesultanan Aceh mulai ekspansif. Aceh mulai mengincar Selat Malaka untuk kepentingan memperluas wilayah kekuasaan serta meningkatkan perekonomian.

Namun untuk menguasai Selat Malaka Aceh harus berhadapan dengan Kesultanan Johor dan tentara Portugis yang saat itu menguasai Malaka.

Berawal dari itu, perselisahan tak dapat dihindari antara Kesultanan Aceh dengan Portugis. Motifnya tak hanya ekonomi, tapi merembet ke masalah politik, hingga agama.

Kapal-kapal dagang dari Aceh yang akan berlayar ke Timur Tengah akhirnya menjadi sasaran serangan Portugis.

Karena kondisi tersebut, pada sekitar tahun 1547 Aceh mengirim utusan ke Turki, meminta bantuan militer kepada Kesultanan Turki Utsmani.

Bantuan dikabulkan, Turki Utsmani pun mengirimkan armada laut untuk melindungi kapal-kapal Aceh di Selat Malaka. Salah satu alasannya, karena orang-orang Aceh itu sesama muslim, maka Kesultanan Turki memiliki tanggung jawab untuk melindungi keselamatannya.

Kedua, Kerja Sama di Bidang Militer dan Perdagangan

Sejak saat itulah, kerja sama kedua kerajaan tersebut terjalin erat, dan terus berlanjut hingga kekhalifahan Selim II. Terutama kerja sama di bidang militer dan perdagangan.

Menurut catatan Portugis tahun 1582, Kesultanan Aceh kerap mengirimkan berbagai macam hadiah seperti emas, batu mulia, rempah-rempah dan parfum untuk Sultan Utsmani. Saat itu, Aceh berdagang rempah-rempah hingga ke wilayah Timur Tengah.

Untuk melindungi kapal-kapal perdagangan Aceh itu, bantuan dari Turki Utsmani diberikan kepada Kesultanan Aceh berupa kapal, pasukan artileri dan persenjataan.

Ketiga, Aceh Menjadi Wilayah Protektorat

Karena hubungan yang erat itu, Kesultanan Aceh pun menjadi wilayah protektorat atau dalam perlindungan Kesultanan Utsmani hingga abad ke-18.

Dengan menjadi wilayah protektorat, kekuatan militer Kesultanan Aceh pun mulai diperhitungkan di kawasan Sumatera dan Malaka.

Keempat, Jejak Peninggalan Turki Utsmani di Aceh

Lamanya hubungan Turki Utsmani dan Aceh meninggalkan jejak bersejarah. Di antaranya bendera Kesultanan Aceh Darussalam berwarna merah dengan bulan sabit, bintang dan pedang berwarna putih, sangat mirip dengan bendera Kesultanan Utsmani.

Bendera Kesultanan Aceh. (Sumber: GoodNews From Indonesia dari buku “Mapping the Acehnese Past”.)

Peninggalan lain yaitu Meriam Lada Secupak pemberian Turki. Konon, di zamannya meriam ini ditakuti oleh tentara Portugis.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...