Ini Akibat Kebanyakan Tidur

Ketika seorang muslim menjalankan ibadah puasa Ramadhan, semua perbuatan baik yang dilakukan akan bernilai ibadah. Termasuk tidur pun menjadi ibadah. Tapi bukan berarti kemudian, mentang-mentang berpuasa lalu kerjanya tidur saja seharian.

Tidur adalah kebutuhan dasar bagi setiap manusia, seperti halnya makan dan minum. Sebab itu harus bisa dipenuhi sesuai porsi. Kebanyakan tidur tentu tidak baik, begitu juga kalau kurang tidur.

Ada akibat yang dapat ditimbulkan kalau seseorang kebanyakan tidur (oversleeping) yang mempengaruhi kondisi kesehatannya.

Berikut beberapa akibat yang bisa timbul, sebagaimana dikutip dari sleepadvisor.org:

Pertama, Diabetes

Efek samping dari kebanyakan tidur hampir sama dengan kurang tidur, salah satunya diabetes. Siklus tidur seseorang yang tidak seimbang, memperburuk kemampuan tubuh untuk memproses glukosa, dan hal ini bisa menyebabkan diabetes.

Kedua, Obesitas

Orang kalau kebanyakan tidur biasanya juga kurang berolah raga. Kurangnya aktivitas fisik menjadi pemicu terjadinya obesitas, meskipun ada faktor-faktor lain yang juga mendorong kenaikan berat badan.

Ketiga, Sakit Kepala

Pernahkah Anda bangun dari tidur selama 12 jam dan merasakan sakit kepala? Kemungkinan penyebabnya adalah kafein, karena mungkin biasanya tubuh Anda mendapat konsumsi kafein lebih awal. Tapi karena tidur lama, konsumsi kafein terlambat.

Tapi, jika Anda bukan peminum kopi, kemungkinan karena penyebab lain, yaitu dehidrasi, sebab Anda telah menghabiskan berjam-jam tanpa cairan.

Keempat, badan sakit-sakit dan nyeri. Jika Anda terlalu banyak tidur, Anda menjadi kurang bergerak apalagi jika tidur di tempat yang kurang nyaman.

Kelima, Penyakit Jantung

Penyakit pembunuh berdarah dingin ini, bisa timbul karena kebiasaan banyak tidur. Bisa jadi, banyak tidur menjadi gejala sakit jantung atau kebanyakan tidur bisa memperburuk penyakit Anda.

Keenam, Stroke

Kurang tidur atau kebanyakan tidur selalu dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke. Secara teori, tidur mengatur fungsi metabolisme dan endokrin. Ketika seseorang tertidur terlalu lama atau terlalu sedikit, ia cenderung membuat fungsi ini tidak berfungsi optimal.

Menurut penelitian terhadap 72 ribu wanita yang tidur lebih dari 9 jam per malam, menunjukkan bahwa 38% dari mereka cenderung memiliki penyakit jantung koroner ketimbang yang tidur normal.

Ketujuh, Peradangan

Tubuh memiliki sitokin, jenis protein yang memberi sinyal sel untuk melakukan berbagai fungsi, termasuk sistem kekebalan tubuh. Ketika sistem kekebalan tubuh terganggu, salah satu tandanya adalah terjadi peradangan. Tidur terlalu panjang akan mempengaruhi aktivitas sitokin yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh yang kemudian menyebabkan kekacauan di seluruh tubuh.

Kedelapan, Kematian

Kedengarannya terlalu ekstrem. Tapi jika kebiasaan kebanyakan tidur terus berlangsung ini benar-benar bisa terjadi. Sebab, dalam sejumlah penelitian durasi tidur yang panjang berkorelasi erat dengan peningkatan mortalitas atau angka kematian.

Lalu berapa lama idealnya seseorang tidur?

Normalnya, orang tidur selama 7-8 jam per hari. Namun demikian, kebutuhan tidur tergantung dari individu masing-masing, yang terkait dengan banyak faktor seperti genetik, usia (pada usia 50 atau 60 tahun orang mngkin butuh tidur lebih lama atau lebih sedikit), tingkat aktivitas, kondisi kesehatan dan sebagainya.

Bagi muslim, tentu saja pola tidur Rasulullah Saw adalah teladan. Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhannya, tapi tidak pula menahan diri jika kantuk sudah datang.

Rasulullah Saw membiasakan tidur selepas Isya untuk kemudian bangun malam, dan beliau tidur tidak lebih dari 8 jam.

Cara tidurnya, sebagaimana dicatat Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam buku “Metode Pengobatan Nabi”, Rasul memiringkan tubuh ke arah kanan, sambil berzikir kepada Allah hingga matanya terasa berat. Terkadang beliau memiringkan badannya ke sebelah kiri sebentar untuk kembali lagi ke sebelah kanan.

Banyak penelitian modern membuktikan bahwa tidur seperti ini merupakan tidur paling efisien. Jadi, tidurlah secukupnya, jangan terlalu lama, sebab kita bukanlah Ashabul Kahfi.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...