Ini 7 Gaya Kepemimpinan yang Buruk, Sebaiknya Dihindari

Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Mereka dipengaruhi oleh situasi, lingkungan, tekanan serta dorongan untuk terus belajar menjadi lebih baik.

Meski tidak ada gaya kepemimpinan yang paling benar, sebab mesti menyesuaikan situasi dan kondisi, tapi setidaknya beberapa gaya kepemimpinan yang buruk ini sebaiknya dihindari.

Mengutip The Ladders, berikut ini 7 gaya kepemimpinan yang buruk yang harus dihindari:

1. Lepas Tangan

Para pemimpin perlu menemukan keseimbangan di dalam manajemen organisasi atau perusahaan. Gaya kepemimpinan yang lepas tangan sepenuhnya biasanya tidak akan berhasil.

Hanya sekadar kasih perintah kemudian pergi, tidak akan terlalu berarti untuk memotivasi karyawan bekerja keras.

“Anda ingin tim Anda melihat Anda sebagai teladan yang terpercaya dan berpengalaman, tapi Anda seringnya hanya memberi perintah, tidak akan berhasil.” kata Akhila Satish, CEO Meseekna, sebuah perusahaan training kepemimpinan yang menggunakan metode metakognisi.

“Meski semua berjalan sesuai rencana, tetaplah terhubung dengan suasana kerja sehari-hari bersama karyawan. Kehadiran serta dukungan Anda bermakna bagi peningkatan kepercayaan diri tim Anda.”

Hal penting lainnya, adalah bersedia terlibat dengan mereka. Jika perlu, sesekali melakukan pekerjaan sebagaimana yang mereka lakukan.

2. Absen atau Tidak hadir

Berbeda dengan lepas tangan, pemimpin yang ini kehadirannya ada di tengah-tengah tim, tapi tidak bisa melakukan interaksi yang berarti.

Dia seringkali tidak tahu dengan apa yang terjadi di dalam timnya sekalipun, meskipun dia ada di dalamnya.

Absen sesekali dan mendelegasikan tugas kepada karyawan adalah satu hal. Tapi jika absen sama sekali di tengah tim Anda, itu hal yang berbeda. Tidak ada ruang interaksi dalam banyak pengertian baik saat rapat formal maupun komunikasi informal.

3. Melayani diri Sendiri

Salah satu ciri kepemimpinan dengan gaya seperti ini, adalah menempatkan orang yang menghasilkan uang di atas segalanya.

Bagi dia, orang-orang yang terlibat dalam menjalankan bisnis adalah mereka yang menghasilkan uang.

“Hindari memimpin dengan tangan besi, dan jangan ikuti model yang hanya mengutamakan keuntungan,” kata seorang pengusaha, Jamie Joslin King.

“Pemimpin yang sukses selalu mengutamakan orang, karena orang lah yang membangun perusahaan. Peliharalah para karyawan yang bekerja untuk Anda, bukan sekadar data dan angka,” katanya.

Bukan berarti keuntungan dan kesuksesan finansial tidak diperlukan, tapi ketika orang-orang didahulukan, maka keuntungan tersebut hampir selalu akan mengikuti.

“Kepemimpinan adalah tentang empati dan memperlakukan orang sebagai manusia. Gunakan pendekatan yang didasari oleh kemanusiaan, bukan hanya tentang perusahaan,” kata King.

Pemimpin perlu bertanya pada dirinya: Apa tujuan karyawan mereka? Apa yang dapat dia lakukan untuk memastikan bahwa karyawannya pergi tidur dengan perasaan bangga dengan apa yang mereka lakukan.

4. Tidak Fleksibel

Gaya kepemimpinan yang tidak fleksibel hanya cocok untuk seorang pemimpin yang tidak mau mengubah teknik dan pendekatan mereka.

Mereka sering kali enggan menerima masukan karena memang tidak ingin melakukan penyesuaian apa pun. Baik pada cara berpikirnya maupun perilakunya, yang menurut dia dapat merusak budaya perusahaan serta menghambat kesuksesan.

“Kepemimpinan bukanlah sebuah formula yang sudah ditetapkan,” jelas Kristy Wallace, CEO Ellevate Network, komunitas untuk perempuan profesional yang mendorong kesetaraan di tempat kerja.

“Kepemimpinan itu dinamis dan selalu berubah berdasarkan ukuran perusahaan, keadaan, stabilitas ekonomi, budaya dan kekuatan tim,” tandasnya.

5. Berpikiran Tertutup

“Secara keseluruhan, yang terbaik adalah menghindari gaya kepemimpinan yang tidak membuka peluang kolaborasi dan tidak terbuka terhadap masukan karyawan,” kata Akhila Satish.

Untuk mengembangkan gaya kepemimpinan yang kuat, komunikasi yang terbuka adalah kuncinya.

“Jika para pemimpin memberikan masukan, mereka juga seharusnya bisa menerima masukan,” kata Jamie Joslin King. “Pemimpin malah seharusnya lebih dulu memberi contoh.”

Pemimpin lazimnya menanyakan kepada karyawan apa yang mereka butuhkan dan bagaimana cara terbaik untuk melayani mereka. Inilah cara untuk memastikan bahwa Anda menghindari berpikir tertutup dalam kepemimpinan Anda.

6. Manajemen Mikro

Pemimpin yang berusaha mengontrol setiap tindakan karyawannya justru seringkali akan kehilangan wibawa.

Dengan memberi tahu seorang karyawan tentang apa yang harus dilakukan, kapan harus melakukan, bagaimana melakukan dengan tepat, seorang pemimpin sejatinya tengah menerapkan manajemen mikro, yang bisa saja merusak kepercayaan diri karyawan.

Mendemonstrasikan tugas atau membuat rekomendasi adalah satu hal, tetapi memandu pekerjaannya secara mendetail justru seperti tidak mengizinkan karyawan untuk mandiri dalam mengerjakan tugasnya.

7. Otoriter

Beberapa pemimpin memiliki kecenderungan menjadi sangat kaku bahkan terlihat otoriter.

Menerapkan aturan ketat secara paksa adalah salah satu tipe kepemimpinan otoriter. Ini membuat karyawan tidak nyaman dan merasa tidak dihargai.

“Menghormati orang lain, terlepas dari peran mereka di perusahaan sangat penting untuk kepemimpinan yang kuat. Jika Anda ingin menginspirasi orang lain, mulailah dari tempat yang saling menghormati dan saling pengertian,” kata Kristy Wallace.

Nah, penting bagi para pemimpin untuk menemukan gaya kepemimpinan yang otentik bagi mereka masing-masing.

Dan yang perlu diketahui, bahwa tidak semua gaya kepemimpinan cocok bagi semua orang. Namun, mengetahui apa yang dibutuhkan oleh orang-orang yang Anda pimpin adalah salah satu cara untuk menemukan gaya kepemimpinan yang sesuai.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...