Ingin Jadi Influencer? Ini 5 Pelajaran Berharga dari Seorang Editor Now This

“Saya mencoba dan gagal menjadi influencer. Saya pernah memperoleh dan kehilangan ribuan followers di media sosial,” kata Brian Patrick Byrne, seorang influencer yang berpengalaman sebagai editor dan jurnalis serta pernah bekerja di sejumlah media global, salah satunya Now This.

Brian mengisahkan bahwa pada tahun 2020 yang lalu dirinya kehilangan pekerjaan sehingga memutuskan untuk menghabiskan waktu sebagai influencer. Mimpi yang dia miliki sejak remaja.

“Saya menghabiskan lebih dari satu dekade mengidolakan bintang YouTube seperti Tyler Oakley, sampai-sampai ketika saya mendengar dia datang ke Dublin, Irlandia pada tahun 2012, saya pergi ke pusat kota itu,” kata Brian.

Ajaib, waktu itu Brian merasa telah melakukan apa yang diinginkan. Dia berinteraksi singkat dengan Tyler Oakley dan membuat lebih dari 70 video. Ia pun mulai membangun followers-nya di internet. Beberapa video bahkan mengalahkan influencer lain yang sudah mapan.

Tapi selanjutnya bukan hal mudah bagi Brian untuk membuat video yang menarik perhatian. Dia bahkan pernah memfilmkan dirinya memasak sambil mabuk, tujuannya agar menarik. Tapi video itu hanya mendapat kurang dari 300 penayangan. Dia akhirnya mensetting ‘privacy’ pada video tersebut.

Brian juga pernah membuat video tentang seporsi besar kentang goreng McDonald’s, lalu membuat kemeja dari irisan roti, dan lain sebagainya.

“Saya mencoba segalanya untuk menarik perhatian, namun saya bahkan tidak dapat memecahkan 1.000 subscriber hingga tahun 2020,” kata Brian.

Brian pernah menghabiskan tiga tahun bekerja di NowThis, mempelajari bagaimana cara menarik jutaan penonton dengan video pendek baik di Snapchat maupun TikTok.

Selama di NowThis, Brian memproduksi konten tentang BTS, band terbesar di dunia dengan fanbase yang terkenal setia dan berdedikasi.

Salah satu videonya mendapatkan hampir 900.000 tampilan di Twitter, dan penggemar atau biasa disebut dengan ARMY menulis ribuan komentar positif.

Dari sinilah Brian menemukan kembali dunianya. Ia kemudian memulai channel YouTube baru, yang menggabungkan latar belakangnya sebagai seorang jurnalis dan perkenalannya dengan fenomena BTS.

Selama beberapa bulan ini, Brian merasa baru menuai hasil. “Channel saya menarik 508.729 tampilan. Melampaui 13.000 subscribe, dan saya bahkan lebih sukses di Twitter,” kata Brian.

Tweet Brian menghasilkan ribuan retweet masing-masing dan dalam beberapa bulan ini pengikut Twitternya telah melampaui 35.000.

Tentu saja, ini belum kesuksesan optimal sebagai seorang influencer, tapi dari sini Brian memetik setidaknya 5 pelajaran berharga, yaitu:

Pelajaran ke-1: Pendapatan iklan di YouTube bisa jadi tidak konsisten, jadi jangan berharap mencari nafkah hanya dari iklan.

Brian menyukai konten yang dibuatnya, khususnya tentang BTS, tapi ini pekerjaan yang menyita waktu juga biaya. Dia harus membayar USD 326 per bulan untuk langganan berbayar ke Mediabase, sebuah layanan industri musik yang memberinya akses ke lagu-lagu favorit BTS.

“Ini menjadi pendorong utama pertumbuhan followers saya di Twitter,” katanya.

Tapi dia mengaku hampir tidak menghasilkan uang. Tweetnya tidak menghasilkan apa-apa. Tapi dengan membangun pengikut di Twitter dia dapat mengarahkan pengikutnya ke Channel YouTube yang dimonetisasi.

Tapi Brian kemudian mengetahui bahwa penghasilan dari iklan YouTube sangat tidak konsisten, sehingga tidak bisa diprediksi.

Satu video yang dia produksi, selama tiga minggu hanya memiliki 43.121 penayangan dan menghasilkan USD 76,34. Video lain, hanya memiliki 5.737 tampilan dan hanya menghasilkan USD 18,67.

Pelajaran ke-2: Lakukan riset sebelum meminta audiens untuk membayar.

Pasang surut penghasilan dari Youtube cukup mengganggu semangat. Ketika videonya berhasil, dia senang. Tapi sebaliknya, kalau gagal dia terpuruk.

Dengan tidak adanya pekerjaan lain, dan uang tabungan yang mulai berkurang, dia tahu bahwa dia perlu mendapatkan penghasilan yang dapat diandalkan.

Pendapatan iklan saja tidak akan cukup, sehingga dia mendapat inspirasi dari influencer lain dengan pengikut setianya, untuk memulai akun di Patreon, sebuah platform keanggotaan berbayar.

Brian lalu menyiapkan beberapa tingkatan, menawarkan hadiah seperti konten eksklusif kepada pelanggannya dengan imbalan biaya bulanan yang kecil. Brian juga mengiklankan Patreon-nya di Twitter, dan segera menerima reaksi.

Meski masuk akal untuk mencoba mendapat penghasilan lain di luar iklan Youtube, tapi ternyata Brian membuat kesalahan besar. Yaitu karena dia tidak berbicara terlebih dulu dengan orang lain dalam komunitasnya apakah memulai Patreon adalah ide yang bagus. Intinya, dia tidak melakukan riset.

Sebagai gantinya, dia membagikan pembaruan berita tentang BTS dan, dalam tweet kedua, dia memberitahu followers bahwa mereka dapat mendukung konten dia di Patreon.

Apa yang terjadi? Ratusan akun justru mengecamnya. Dia dianggap meminta uang dari fans yang terkenal dengan etos kesukarelaannya.

Akibatnya, beberapa orang menyatakan bahwa Brian telah membangun pengaruh di dalam komunitas fan dengan tujuan semata-mata untuk mendapatkan imbalan finansial.

Beberapa pengguna dengan banyak pengikut, termasuk yang telah mendukung pekerjaan Brian sebelumnya, berhenti follow atau memblokirnya.

Pelajaran ke-3: Berhati-hati mengubah merek setelah Anda membangun pengikut.

Di media sosial, membangun basis fan seperti halnya membangun penggemar klub olahraga. Ketika Anda menyatakan diri sebagai pendukung salah satu klub, penggemar mungkin tidak akan senang jika Anda mulai menyerang klub saingan. Ini yang terjadi.

Dalam kasus Brian, dia menyatakan diri sebagai penggemar BTS, tapi kemudian memposting konten tentang pesaing, BLACKPINK.

“Minggu lalu saya mempublikasikan reaksi saya terhadap ‘DDU-DU DDU-DU” BLACKPINK, saya kehilangan 8.000 pengikut Twitter,” akunya. ARMY juga mengungkapkan kemarahan mereka dalam komentar.

Pelajaran ke-4: Jika Anda ingin menjadi influencer, bersiaplah dikritik publik.

Brian menyadari bagaimana rasanya sekarang menjadi seorang influencer. Ada kelompok orang yang bersedia menghancurkan dirinya saat melakukan kesalahan sekecil apapun.

Orang-orang yang memiliki banyak pengikut di YouTube mengatakan bahwa mereka tidak akan dapat mengubah asumsi yang telah dibuat orang lain tentang mereka.

“Itu justru terjadi saat Anda sedang tumbuh,” kata mereka.

Hal ini mungkin cocok dengan pepatah, “Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berhembus.”

Pelajaran ke-5: Tidak semua orang cocok jadi influencer. Tapi mungkin saja Anda bisa Berhasil.

Bagi Brian, menjadi influencer bukanlah pekerjaan yang cocok untuknya. Tapi dia menyarankan, jika Anda bisa mengatasi berbagai kesalahan yang pernah dilakukannya, Anda mungkin saja bisa berhasil melakukannya.

“Kesehatan mental lebih berarti bagi saya, saya lebih bahagia menjadi bukan siapa-siapa,” kata Brian.

Pesan dia, jauh lebih mudah untuk mendapatkan followers baru ketimbang meyakinkan mereka untuk membelanjakan uangnya untuk apa pun yang Anda buat.

“Pahami bahwa mencari nafkah di internet itu sulit, dan untuk berhasil, Anda memerlukan kesabaran dan ketekunan,” pungkasnya. (Sumber: Business Insider).

Baca Lainnya
Komentar
Loading...