“Info is King”, Belajar dari Survei Iklan di Amerika

Sebuah studi menemukan bahwa orang Amerika lebih menyukai iklan yang memberikan informasi kepada mereka tentang sebuah produk.

Apakah mereka tidak menyukai iklan diskon? Tentu saja suka, hanya saja jumlahnya lebih rendah.

Perkembangan industri iklan digital yang lebih terbuka untuk didiskusikan, telah mengubah sentimen konsumen tentang peran iklan dalam kehidupan orang Amerika.

Penelitian terbaru GWI (Global Web Index) menemukan bahwa kebanyakan orang Amerika hanya menginginkan iklan yang memberi tahu mereka tentang produk yang dipromosikan.

Ketika mereka ditanya apa yang “paling mereka inginkan” dari sebuah iklan, setengah dari pengguna internet AS yang disurvei oleh GWI, mengatakan “informasi produk”.

Persentase tersebut jauh lebih tinggi ketimbang mereka (40%) yang mengatakan bahwa mereka mencari iklan yang memberi mereka diskon produk dan penawaran khusus.

Tentu saja ini adalah hal baru bagi dunia periklanan, dimana telah terjadi “pertukaran nilai” yang diharapkan oleh konsumen dari sebuah iklan.

Responden yang mengatakan bahwa mereka mencari iklan hanya untuk menghibur sebanyak 39%. Sementara mereka yang mencari iklan untuk mengajari tentang sesuatu yang baru sebanyak 33%. Orang yang mencari iklan yang relevan sebanyak 29%, serta yang ingin membuat mereka tertawa 29%.

Tanggapan yang lebih rendah terhadap spektrum lain, seperti iklan yang menargetkan konsumen secara personal (18%), mempromosikan keragaman (16%), meningkatkan kesadaran akan masalah sosial atau lingkungan (16%), berfokus pada tanggapan terhadap krisis Covid-19, (12%), menunjukkan bahwa kebanyakan orang Amerika hanya menginginkan iklan yang menjalankan fungsi paling klasiknya yaitu: untuk menginformasikan, menghibur, mendidik, menjadi relevan, atau membuat mereka tertawa.

Yang menarik, mereka memberi respon negatif terhadap iklan-iklan seperti ini: iklan yang terlalu banyak sehingga mereka sering melihatnya (52%); iklan yang menghalangi akses ke konten (39%), iklan yang tidak relevan dengan konsumen (37%), iklan yang berdampingan dengan konten yang tidak pantas (32%), iklan yang tampak mengikuti konsumen (29%), dan iklan yang tampak terlalu bertarget (20%).

Meskipun survei ini di lakukan di Amerika, terhadap orang-orang Amerika, namun tampaknya masih cukup relevan untuk menjadi pertimbangan bagi para pembuat atau pemasang iklan di Indonesia. Betul, kan?

Baca Lainnya
Komentar
Loading...