Ikan Asin, Sejak Kapan Ada di Indonesia?

Siapa yang tak pernah makan ikan asin? Orang Indonesia pasti pernah mencicipi makanan berbahan dasar ikan asin.

Kuliner ikan asin tak mengenal strata, kalau sudah ada di atas piring atau tempat makan, hampir semua orang Indonesia, mau pejabat atau rakyat biasa, sebagian besar menyukainya. Apalagi dicocol sambal terasi.

Ikan asin merupakan jenis ikan yang diolah dengan cara diasinkan. Ikan bisa merupakan ikan laut maupun ikan tawar.

Hampir semua jenis ikan bisa diolah menjadi ikan asin, namun yang populer hanya jenis-jenis ikan tertentu saja, seperti ikan asin jambal yang berasal dari jenis ikan manyung dari bangsa ikan berkumis atau siluriformes. Baca juga >>

Sejak kapan ikan asin ada di Indonesia?

Secara pastinya, mungkin sulit ditentukan. Namun penelusuran sejumlah sumber menemukan ikan asin di Indonesia tercatat dalam prasasti Kerajaan Mataram Kuno sebagai komoditas perdagangan masa itu.

Jadi, jika bicara sejarah masyarakat Nusantara, khususnya Jawa, mereka sudah mengenal ikan asin sejak era Mataram Kuno bahkan mungkin sebelum itu.

Ini sangat wajar sebab sebagai negara maritim Indonesia atau Nusantara memiliki kekayaan sumber daya laut yang melimpah.

Ikan dari laut yang melimpah tersebut dikonsumsi dan diolah begitu rupa agar bisa awet dan disimpan berbulan-bulan, salah satunya dengan teknik diasinkan.

Sebuah buku berjudul “Dinamika Sosial Budaya Masyarakat di Pulau Jawa Abad VIII-XX” terbitan Dinas Pariwisata Jawa Timur dan UGM, menyebut soal Prasasti Kembangarum berangka tahun 824 Saka atau 902 Masehi.

Dalam prasasti tersebut menunjukkan bahwa masyarakat pada zaman itu sudah memakan ikan asin.

Diceritakan, masyarakat era itu sudah makan nasi dengan ikan asin ditambah beberapa jenis lauk-pauk lain seperti dendeng ikan, cumi-cumi dan udang.

Tidak hanya dikonsumsi ikan asin waktu itu juga menjadi komoditas perdagangan.

Di masa lalu, orang-orang Eropa juga biasa mengawetkan ikan cod dengan cara diasinkan atau salted fish.

Sebuah penelitian berjudul “Historical Origins of Food Preservation” dari University of Georgia, Amerika Serikat, menyebut bahwa mengawetkan makanan dengan garam adalah metode pengawetan yang paling tua.

Tidak hanya di Indonesia, ikan asin juga sudah menjadi santapan masyarakat dunia sejak dahulu kala. Baca juga >>

Seperti di Karibia, Afrika Utara, Asia Tenggara, Cina Selatan, Skandinavia, sebagian Kanada termasuk, pesisir Rusia, bahkan Kutub Utara.

Meski semua orang suka ikan asin kerap dianggap sebagai kuliner rendahan karena nilai gizinya yang rendah.

Padahal sebenarnya ikan asin memiliki kadar protein hewani yang cukup baik, bahkan mengandung lebih banyak kalsium dibanding ikan segar.

Namun, karena kandungan sodiumnya yang tinggi, ikan asin bisa mempengaruhi kesehatan jika dikonsumsi terlalu banyak atau sering.

Sebetulnya, makanan apapun kalau dikonsumsi berlebihan juga menjadi tidak baik. Termasuk ikan asin.

#ikanasin #mataram #kuliner

Baca Lainnya
Komentar
Loading...