Hukum Menambang Asteroid

Jika di Indonesia orang masih berdebat soal hukum pertambangan di bumi seperti batubara, emas, tembaga, timah, nikel, dan sebagainya, di Barat sana orang sudah mulai berdebat soal hukum pertambangan di luar angkasa.

Kok bisa? Iya. Saat ini asteroid yang berada di luar angkasa, tepatnya di di sabuk Mars dan Jupiter tengah menjadi perhatian banyak pihak, khususnya ilmuwan dan dunia industri Barat.

Ternyata, asteroid yang berada jauh di atas langit itu bisa ditambang layaknya batubara, emas, nikel dan mineral lainnya.

Menurut Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) penambangan itu bisa menghasilkan uang sangat banyak. Mineral di asteroid, menurut NASA, setara dengan USD 100 miliar atau Rp1.433 triliun untuk setiap manusia di Bumi. Sekali lagi, untuk setiap manusia! Kalikan saja dengan jumlah manusia. Luar biasa besar, bukan?

Tapi masalahnya, aktivitas penambangan asteroid masih berkendala soal hukum. Dari segi hukum masih belum ada kejelasan bagaimana kepemilikan sumber daya yang ada di luar angkasa itu. Baca juga >>

Ian Christensen, Direktur Program Sektor Swasta di Secure World Foundation mengatakan, secara umum sebagian besar undang-undang mengenai antariksa masih bersifat ambigu.

“Ada beberapa celah dalam undang-undang, dan beberapa hal perlu diklasifikasi untuk memberikan kepastian lebih pada undang-undang saat ini,” kata dia seperti dilansir CNBC Internasional, Minggu (7/8).

Menurutnya, belum ada satupun otoritas yang memiliki tanggung jawab terkait alokasi sumber daya luar angkasa tersebut. Saat ini, pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan izin terhadap pihak yang akan melakukan aktivitas di antariksa.

“Penegakan dilakukan oleh otoritas pemerintah nasional (Amerika Serikat) ada, namun otoritas luar angkasa secara khusus belum ada,” kata Christensen.

Hingga saat ini aturan paling komprehensif adalah Perjanjian Luar Angkasa tahun 1967 yang dikeluarkan oleh PBB. Namun kebingungan antar negara mengenai aktivitas antariksa hingga saat ini masih terjadi.

Analis sains dan teknologi di Stratfor Rebecca Keller berpendapat bahwa penggunaan sumber daya di luar angkasa masih kabur. Masih terjadi perdebatan antara pemerintah AS dan ahli soal penggunaannya.

“Pemerintah AS dan para ahli di bidang ini masih memperdebatkan pemanfaatan yang tepat dari sumber daya ini dan hal itu tetap menjadi pertanyaan yang sulit dijawab,” terangnya.

Namun begitu sejumlah perusahaan diketahui sudah berniat pergi ke luar angkasa dan meraup. Hal ini yang menjadi perhatian Keller dan mengimbau para pemerintah di bumi juga memberikan perhatian. Baca juga >>

Pemerintah di Bumi diminta untuk melakukan pembatasan dan mengontrol kepentingan para perusahaan swasta tersebut. Salah satunya dengan mengadopsi aturan-aturan pada perjanjian perubahan iklim.

Sejauh ini, kesepakatan tersebut mampu membawa sejumlah pihak untuk duduk bersama, meskipun kekuatan penegakan hukum tersebut masih jauh dari sempurna.

Ketika dunia internasional sudah bicara tentang hukum pemanfaatan sumber daya luar angkasa, bagaimana dengan bangsa Indonesia?

#asteroid #nasa #tambang

Baca Lainnya
Komentar
Loading...