Hakikat Kebahagiaan Menurut Imam Ghazali

Imam Ghazali menjelaskan syukur dalam kitab Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin. Bahwa syukur merupakan senang terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah kepada manusia.

Sebuah kewajiban sekaligus bagian dari iman untuk mengetahui bahwa semua nikmat adalah pemberian dari Allah semata. Jika manusia merasa nikmat itu bukan dari Allah, maka imannya bisa dikatakan kurang atau belum sempurna.

Bersyukur kepada Dzat yang memberikan nikmat juga merupakan bagian dari iman kepada Allah. Manusia yang tidak bisa bersyukur, maka imannya bisa dikatakan belum sempurna atau kurang. Kemudian jika manusia sudah mengetahui nikmat itu berasal dari Allah dan bisa bersyukur atas nikmat tersebut, maka hal itu akan menyebabkan manusia menjadi senang atau bahagia.

Tidak ada yang tidak nikmat di dunia ini. Contoh alis, alis jika panjang seperti halnya rambut, kan hal itu justru akan merepotkan, maka alis yang seperti sekarang ini merupakan sebuah kenikmatan. Mata, seandainya mata letaknya bukan yang seperti sekarang, di atas kepala mungkin, bisa dibayangkan seperti apa. Kemudian otak, otak tidak bisa lupa, kalau pun lupa, lupa sendiri itu sebuah kenikmatan. Jadi, semuanya itu sebuah kenikmatan yang perlu disyukuri oleh manusia.

Seorang mukmin itu diharuskan untuk senang dan bahagia, karena apapun di dunia itu sebuah kenikmatan. Kalaupun ada sesuatu yang kurang mengenakkan itu hal wajar, tapi bukan berarti menyebabkan manusia tidak bahagia.

Maksud dari bahagia itu bersyukur dan qana’ah. Senang terhadap nikmat Allah itu bagian dari bersyukur. Orang yang bersyukur pasti bahagia, tidak mungkin orang yang bersyukur tidak bahagia.

Bahagia itu wajib karena itu bagian dari iman, dan merupakan buahnya iman kepada Allah. Contoh kita memberikan sesuatu kepada orang lain, jika orang yang kita kasih itu senang, maka kita pun juga ikut senang.

Begitupun dengan Allah. Allah memberikan kenikmatan kepada manusia, jika manusia yang diberi itu merasa senang Allah pun ikut senang. Maka, senang terhadap nikmat itu merupakan adab kepada Allah.

Orang yang bijaksana adalah orang yang bisa menikmati keadaannya saat ini dan menikmati suatu nikmat sesuai tujuan dibuatnya nikmat itu sendiri.

Contoh tujuan diciptakanya telinga itu untuk mendengarkan yang baik-baik. Kemudian digunakan untuk mendengarkan yang baik-baik, ini sesuai dengan tujuan diciptakanya telinga.

Manusia diciptakan untuk beribadah, kemudian manusia menggunakan hidupnya sesuai dengan tujuanya yaitu, untuk ibadah. Orang tersebut termasuk orang yang bersyukur sekaligus bijaksana.

Hakikat kebahagiaan itu bersyukur. Manusia yang bisa bersyukur, pasti bahagia. Jadi, jika manusia ingin bahagia, bersyukurlah atas nikmat yang diberikan oleh Allah.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...