Empat Ulama Tasawuf yang Memberi Masukan Soekarno-Hatta

Sejarah kemerdekaan Republik Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran pesantren, kiai dan santri.

Sejarah mencatat bahwa peran pesantren sangatlah besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Tanpa kehadiran pesantren bisa jadi kemerdekaan tidak akan diperoleh.

Pesantren melalui kiai dan santrinya, turut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan, baik terjun di medan perang langsung, maupun melalui usaha batin, yakni tirakat, do’a dan istighatsah, dsb.

Selain itu, kiai pesantren juga turut memberikan masukan maupun pendapat kepada tokoh-tokoh yang terlibat dalam upaya kemerdekaan.

Sering sekali juga tokoh nasional kemerdekaan, seperti Ir. Soekarno, Bung Hatta, dsb sowan dan silaturrahim ke pesantren untuk menemui kiai guna meminta pendapat maupun masukan dalam upaya melawan penjajah dan upaya untuk kemerdekaan maupun masalah-masalah kenegaraan lainnya.

Tak terkecuali pada saat sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, bahkan 5 bulan sebelum proklamasi dikumandangkan, Ir. Soekarno dan Bung Hatta menyempatkan diri menemui empat ulama dan kiai ahli tasawuf di Jawa, yaitu Syekh Musa (Sukanegara, Cianjur, Jawa Barat), KH. Abdul Mu’thi (Madiun, Jawa Timur), Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang, Jawa Timur) dan Sang Alif atau Raden Mas Panji Sosrokartono (Bandung, Jawa Barat).

Dalam buku R.M.P Sosrokartono karya M. Muhib dijelaskan bahwa empat ulama ahli tasawuf tersebut memberikan masukan kepada Soekarno-Hatta bahwa akan turun “berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” pada hari Jum’at Legi 1364 Hijriah, yakni kemerdekaan Republik Indonesia.

Jika rahmat Tuhan berupa kemerdekaan itu tidak turun di hari itu, maka menurut empat ulama besar tersebut, Indonesia harus menunggu tiga abad lagi. Karena itu, masukan berharga dari empat ulama besar tersebut menjadikan dorongan kuat bagi Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Selain itu, empat ulama tersebut juga menegaskan kepada Soekarno-Hatta bahwa Jepang yang saat itu kalah perang tapi masih ada di Indonesia tidak akan mengganggu kemerdekaan Republik Indonesia yang hendak diproklamasikan.

Sejarah membuktikan bahwa Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada hari Jum’at Legi tanggal 17 Agustus 1945 Masehi bertepatan dengan 09 Ramadhan 1364 Hijriah.

Masukan yang sifatnya mistik dari keempat ulama tasawuf tersebut itulah yang membuat Soekarno-Hatta terinspirasi dan akhirnya memilih untuk memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, dan bukan pada tanggal dan hari lain misal 16 Agustus atau 18 Agustus.

Lasmidjah Hardi juga menyatakan bahwa Presiden Soekarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai momen untuk memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia salah satu faktornya adalah pendekatan mistik yang juga sangat dipercayai oleh Bung Karno.

Sebagai orang Jawa tentu Bung karno sangat mempercayai mistik, sehingga turut menjadi dasar bagi Soekarno dalam memutuskan persoalan-persoalan bangsa, termasuk dalam memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Wallahu ‘Alam.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...