Dzikir Ibadah Tanpa Batas

Dzikir adalah ibadah yang dituntut dalam segala keadaan, di setiap tempat dan waktu.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, (QS. Al-Ahzab: 41).

Menurut Ibnu Abbas, Allah setiap mewajibkan sesuatu (faridhah) itu ada batasan tertentunya. Kewajiban itu juga bisa gugur ketika orang itu memiliki udzur. Namun itu tidak berlaku untuk dzikir. Dzikir hanya bisa gugur ketika orang kehilangan kesadarannya.

Dzikir tak memiliki batasan sebagaimana kewajiban lain seperti shalat dan puasa yang dilakukan pada waktu tertentu. Bahkan ada waktunya terlarang shalat dan puasa. Tapi dzikir berbeda, ia bisa dilakukan kapan dan di mana saja asal sesuai adabnya. Sehingga bagi seorang muslim berdzikir sepatutnya dalam setiap kondisi.

فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ

ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. (QS. An-Nisa’: 103).

Baik itu dzikir di waktu malam, siang, di daratan di lautan, dalam perjalanan maupun sedang di rumah atau tempat kerja. Baik dalam keadaan sedang kaya maupun miskin, saat sakit ataupun sehat. Dzikir bisa dilakukan secara rahasia ataupun terang-terangan, sendiran maupun secara berjamaah, singkatnya dzikir bisa dilakukan dalam semua keadaan.

Untuk itu Rasul mengajarkan doa kepada orang yang dicintainya sahabat Mu’adz bin Jabal agar selalu berdzikir sepanjang waktu.

Rasulullah Saw sambil memegang tangan Mu’adz bin Jabal berucap “wahai Muadz demi Allah sungguh Aku mencintaimu, demi Allah sungguh Aku mencintaimu. Rasul kemudian berkata pada Mu’adz: Aku wasiatkan kepadamu Mu’adz, jangan kau tinggalkan ucapan (doa) setiap selesai shalat.

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah bantulah Aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan baik dalam beribadah kepada-Mu.”

Baca Lainnya
Komentar
Loading...