Dua Kiai Muda Jadi Asal Muasal JATMAN Berdiri

Asosiasi pengamal tarekat mu’tabarah di dalam Nahdlatul Ulama atau yang dikenal dengan JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah) secara organisatoris berdiri pada tahun 1957.

“Pada awalnya ada dua ulama muda yakni Kiai Nawawi Berjan dan Kiai Masruhan Ihsan Mranggen yang memiliki ilham yang sama. Mereka berdua melihat pada saat itu banyak Mursyid dan thariqah yang tidak jelas sanad dan silsilahnya,” demikian ungkap KH. Achmad Chalwani putra dari Pendiri JATMAN KH. Nawawi bin KH. Shiddiq.

Kiai Nawawi Berjan.

Karena keprihatinan atas kondisi yang demikian itu maka muncul gagasan diperlukannya organisasi thariqah untuk mengatasi hal tersebut. Kedua Kiai muda ini kemudian menghadap Kiai Muslih Abdurrahman Mranggen yang sedikit lebih tua kala itu dengan mengajak Kiai Mandzur Temanggung.

Lalu H. Andi Patopoi yang saat itu menjabat sebagai Bupati Grobogan (mbahnya Andi Malarangeng), menghantarkan Kiai Nawawi dan Kiai Masrukhan ke Jawa Barat dan Jawa Timur untuk proses pembentukan organisasi.

Pada tahun 1956 di haul Berjan dibentuklah panitia Kongres Thariqah se Indonesia. Yang kopnya waktu itu tertulis Panitia Kongres Alim Ulama Ahli Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah Indonesia.

Kemudian tersusunlah panitia sebagai pelindung pertama KH. Romli Tamim Peterongan, Jombang. Pelindung kedua H. Andi Patopoi Grobogan. Ketua panitia kongres saat itu kiai Nawawi dan wakilnya KH. Mandzur Temanggung.

Kongres itu hampir batal karena dana. Akhirnya Kiai Chudlori yang merupakan teman Kiai Nawawi saat mondok di Lasem bersedia menanggung dana kongres. Kiai Chudlori menghimpun dana dari masyarakat Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo dan sekitarnya. Berbentuk natura (barang yang sebenarnya bukan dalam bentuk uang) seperti kelapa, beras dan sebagainya.

Ternyata pada kongres pertama di luar TQN banyak yang hadir, seperti dari tarekat Naqsyabandiyah, Syathariyah dan Syadziliyah. Maka yang tadinya bernama Panitia Kongres Alim Ulama Ahli Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah Mu’tabarah Indonesia diubah menjadi Panitia Kongres Alim Ulama Ahli Thariqah Mu’tabarah.

Berlangsunglah kongres pertama itu tahun 1957 di Ponpes API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo, Magelang. Para kiai ahli thariqah kemudian menginginkan sosok yang layak menjadi Rais Akbar pada saat itu. Para kiai itu secara bersamaan melakukan istikharah di Tegalrejo.

Kiai Baidlowi Abdul Aziz (Rais Akbar Jam’iyyah pertama).

Akhirnya, mereka pun atas izin Allah memiliki isyarat mimpi yang sama yaitu melihat Kiai Baidlowi Abdul Aziz Lasem mengimami di Masjidil Haram.

Para kiai ahli thariqah sepakat dan meminta kesediaan murid Syekh Mahfudz At Turmusi yang saat itu sebagai khalifah tarekat Syadziliyah merangkap Syathariyah menjadi Rais Akbar (sebelum berganti menjadi Rais Aam). Kiai Baidlowi merupakan pencetus gelar waliyyul amri ad dharuri bissyaukah bagi Bung Karno.

Kiai Zubair Umar Jaelani (Ketua Umum Pertama Jam’iyyah).

Sedangkan ketua umumnya pada waktu itu Kiai Zubair Umar Jaelani, mantan Rektor IAIN Walisongo Semarang dan Ketua Mahkamah Islam Tinggi Jawa-Madura pertama di Surakarta. Murid Hadhratus Syekh Hasyim Asy’ari ini juga merupakan ahli falak yang diakui ulama Mekah dan Kairo. Beliau mengarang kitab berjudul Al Khulashatul Wafiyah yang dikaji di Timur Tengah.

Kongres yang diadakan pada 12-13 Oktober 1957 di Tegalrejo Magelang itu menghasilkan keputusan bahwa lahirnya Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah ialah pada tanggal 10 Oktober 1957.

Kemudian pada saat Muktamar NU ke 26 tahun 1979 di Semarang, Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah dimasukkan sebagai salah satu Badan Otonom Nahdlatul Ulama. Yang dikukuhkan berdasarkan Surat Keputusan Syuriah PBNU Nomor 137/ Syur.PBNU/V/1980.

Maka sejak itu sampai sekarang Jam’iyyah Ahli Thariqah ini dikenal dengan nama JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’ tabarah An Nahdliyyah).

Baca Lainnya
Komentar
Loading...