Derivatif

Semangat berinvestasi (pada instrumen keuangan) tampak menyala pada banyak kalangan. Iming-iming imbalan (return) tinggi menjadi ‘gula’ yang menarik semut. Tapi benarkah demikian?

Aset keuangan kategori awal dikenal sebagai ‘risk-free rate’. Termasuk kelompok ini (bebas risiko) adalah segala yang ditanggung/dijamin oleh pemerintah. Setelah itu yang memiliki kewajiban pengembalian pokok investasi disertai kupon. Kelompok ini seluruh surat utang.

Lalu diikuti yang tidak memiliki kewajiban pengembalian pokok maupun tidak berjanji tentang hasil yang akan diperoleh, namun memiliki aset perusahaan. Termasuk kelompok ini adalah penyertaan modal, (equity/saham) termasuk juga joint venture.

Terakhir adalah yang tidak memiliki kewajiban pengembalian pokok dan juga tidak memiliki aset, melainkan aset hanya sebagai dasar transaksi (underlying assets). Kelompok ini dikenal sebagai derivatif.

Banyak kalangan yang mungkin masih awam barangnya (derivative), tetapi sudah membeli terlebih dahulu. Derivatif termasuk golongan ‘risiko sangat tinggi’ bukan sebaliknya. Tentu potensi imbalan besar, namun jangan terkecoh.

Prinsip Derivatif

Prinsip derivatif bukanlah membeli aset (investasi) tapi melakukan transaksi berdasarkan aset (underlying assets). Aset dijadikan dasar keputusan investasi (beli dan atau jual), lalu dari selisih harga diperoleh untung/rugi.

Memasuki pasar derivatif biasa dikenal sebagai kontrak. Ilustrasi yang mudah adalah Anda dapat membeli emas (di pasar barang/toko emas); membeli saham perusahaan penghasil emas (ANTM, di pasar modal), dan atau membeli kontrak emas (di pasar futures, derivative).

Baik membeli emas dan saham, barangnya ada, bersifat kepemilikan. Sedangkan kontrak emas, bisa disertai kepemilikan (serah terima barang, melalui pedagang bursa resmi) dengan setor uang sesuai harga yang disepakati (exercise price; X) namun bisa juga tidak disertai penyerahan barang (ini yang mayoritas) dan Anda mendapatkan laba/rugi dari selisih harga exercise dengan harga spot pada saat jatuh tempo.

Selama semua berlangsung dengan ‘benar’ tidak ada yang salah dalam transaksi derivatif. Namun perlu diingat bahwa ini termasuk kelompok risiko tinggi.

Ilustrasi. (Foto: Karolina Grabowska)

Pertama, untuk memasuki derivative perlu menyetor uang dalam jumlah kecil (disebut margin untuk futures, premi untuk opsi). Makin kecil marginnya, justru menunjukkan makin berisiko, bukan sebaliknya makin baik. Marjin 1% dari nilai transaksi, berarti menunjukkan ‘daya ungkit’ sebesar 1/1% atau setara 100 kali. Artinya jika kita membeli emas, lalu harganya naik, dan mendapatkan keuntungan 5%, maka pada pasar derivatif tingkat keuntungan diterima sebesar 500%. Ini berlaku juga untuk kerugian!

Sedangkan pada derivative opsi, uang premi bersifat hangus, jadi betul-betul harus ikhlas, dengan harapan, harga ke depan terjadi sesuai dengan harapan kita. Apakah sesuai harapan? Jika ya, maka payoff (nilai transaksi) juga akan meningkat. Jika premi missal hanya 10% dari nilai transaksi, maka pengungkit menjadi 1/10% setara 10 kali.

Bagaimana jika tidak sesuai harapan? Maka opsi tidak bernilai (bernilai nol), dan premi sebagai investasi akan hangus. Inilah risikonya. Apakah Anda yakin harga bergerak sesuai harapan?

Kedua, sebenarnya apa niat Anda bertransaksi derivatif? Jika Anda bukan pedagang emas, maka Anda tidak mungkin berinvestasi pada derivative, dan tidak juga punya alasan untuk berjaga-jaga khawatir misal jika harga emas turun.

Anda akan masuk pada kategori investor (penghalusan dari spekulan). Apakah Anda memahami perilaku perubahan harga? Apakah Anda siap menerima kerugian? Apakah anda memiliki buffer (penyangga) jika memerlukan tambahan dana? Apakah uang yang digunakan tersebut, merupakan uang lebih? Apakah anda yakin counterpart dalam bertransaksi adalah legal-terpercaya? Apakah anda memiliki waktu untuk mengelola transaksi (harian)? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat perlu dijawab sebelum memasuki transaksinya.

Ilustrasi. (Foto: Pexels)
Derivatif Bukan Investasi

Dari uraian di atas diketahui, derivative bukan untuk investasi, tapi sarana untuk mendapatkan return (tinggi) selaras dengan risikonya yang tinggi. Derivatif memang dapat digunakan untuk lindung nilai (hedging), hanya jika kita memiliki aset yang ingin dilindungi. Dan sebagai hedging, bukanlah tujuan untuk mencari return. Lebih lanjut, derivatif saat ini juga didasarkan pada underlying assets yang bukan asset, semisal indeks saham. Naik turun indeks saham tersebut menjadi dasar untuk perhitungan pay off (nilai), positif atau negatif dari derivatif tersebut.

Sudah pasti tidak ada serah terima barang (indeks), karena memang bukan/tidak ada barangnya. Dan pastinya, Anda terus menduga/berharap indeks ke depan berubah sesuai dengan posisi Anda (long/beli) atau (short/jual). Pasti memerlukan energi yang besar untuk mengamati hal ini dan khawatir exhausted.

Untuk generasi Z, mulailah dengan sabar, kecil dan mengerti bisnis riilnya. Selamat berinvestasi, dan itu bukan derivatif.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...