Cara Singapura Persiapkan Pekerjaan Masa Depan

Dunia kerja jutaan orang saat ini tampak sudah berubah, sangat berbeda jika dibanding dengan 18 bulan yang lalu.

Pandemi Covid-19 telah mengubah tempat-tempat kerja di seluruh dunia secara signifikan. Tren pun berkembang sangat cepat, khususnya teknologi.

Namun demikian, sejumlah pertanyaan terus muncul. Bagaimana bisnis dan para karyawan tetap dapat mempersiapkan apa yang akan terjadi selanjutnya?

Pertanyaan ini menjadi salah satu fokus dalam sebuah sesi diskusi di “World Economic Forum’s Sustainable Development Summit 2021” yang mengangkat pembahasan soal persiapan masa depan pekerjaan yang “Baru”.

Belajar dari Singapura

“Jika Anda melihat sejarah Singapura, kami telah melihat pelatihan ulang tenaga kerja sejak negara itu diciptakan,” kata Gog Soon Joo, seorang Chief Skills Officer di SkillsFuture Singapore, seperti dikutip dari weforum.org.

Setiap warga negara Singapura dituntut harus memiliki karir yang memuaskan. Dan itu artinya, investasi harus dilakukan negara untuk pendidikan gratis dari dasar, menengah hingga perguruan tinggi. Baca juga >>

Tapi, belajar sepanjang hayat juga sangat penting. Warga Singapura yang berusia di atas 25 tahun mengeluarkan sekutar USD 500 untuk program pelatihan keahlian tertentu. Selain itu, ada banyak kursus bersubsidi yang tersedia untuk warga negara di sana.

“Saya pikir, pada akhirnya, kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi mengalir pada kesuksesan karir individu warga negara dan juga mendukung ekonomi yang kompetitif,” kata Gog Soon Joo.

Kerja Bersama

Menurut Joo, amat penting dalam pemulihan dari pandemi Covid-19, orang-orang melihat ke masa depan, bukan ke masa lalu.

“Kita perlu memperbaiki keterampilan untuk ekonomi masa depan,” kata Joo, dan “memungkinkan orang untuk berputar dari industri matahari terbenam ke industri matahari terbit,” lanjutnya.

Tapi menurut dia, ini membutuhkan koordinasi dan keterlibatan dengan banyak pemangku kepentingan di segala penjuru, baik pemerintahan, swasta, hingga masyarakat sendiri.

“Dunia kerja harus menjadi lebih baik untuk semua orang,” kata Robert E. Moritz, Ketua Global PwC.

“Kita harus berevolusi dan bekerja secara bersama di seluruh ekosistem untuk membuat semuanya benar-benar bekerja lebih baik bagi semua orang,” kata dia.

Peran teknologi

Peran teknologi juga amat penting sebagai bagian dari proses ini, kata Dan Rosensweig, Presiden dan Chief Executive Officer, Chegg, Inc.

“Semua ekonomi di seluruh dunia menjadi technology-enabled. Tapi itu tidak berarti setiap orang harus jadi insinyur. Tapi setiap orang harus memahami dan memanfaatkan teknologi dalam peran apa pun yang mereka mainkan,” jelasnya.

Skilling, reskilling dan upskilling sangat penting. Orang-orang harus menyadari bahwa keterampilan 25 tahun yang lalu, atau bahkan 5 tahun yang lalu, mungkin sudah tidak sesuai lagi sekarang. Baca juga >>

“Institusi, termasuk pemerintah dan pendidikan, perlu menyelaraskan kembali dengan kebutuhan mahasiswa dan tujuan bisnis ke depan,” tambahnya.

Memang, Laporan Pekerjaan Masa Depan Forum Ekonomi Dunia 2020 juga sudah memperingatkan tentang kebutuhan pelatihan ulang untuk masa depan dunia kerja.

“Kita harus melihat kembali biaya pendidikan. Cara pendidikan disampaikan, kurikulum yang disampaikan, lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan gelar. Pendidikan harus berbiaya rendah dan sesuai permintaan,” kata Rosensweig.

#singapura #pandemi #teknologi

Baca Lainnya
Komentar
Loading...