Cara Milenial Mendapat Pekerjaan Impian Lewat Media Sosial

Di era media sosial bukan hal yang terlalu sulit untuk mencari profil seseorang. Ini juga yang digunakan sejumlah perusahaan untuk menelusuri terlebih dulu siapa calon karyawannya.

Ini pula yang disadari oleh seorang anak milenial di Amerika bernama Jonathan Javier, saat mendekati hari kelulusan kuliahnya.

Diceritakan Forbes, Javier tahu dia harus berjuang keras mendapatkan pekerjaan impiannya di bidang teknologi. Tapi dia juga menyadari dirinya bukan lulusan dari universitas terkemuka. Maka, dia pun melakukan pendekatan yang sangat berbeda.

Javier sudah mencoba cara biasa. Mengirim surat lamaran ke 50 perusahaan dalam seminggu, dan hasilnya sama: penolakan.

Setelah itu, dia menyadari bahwa pendekatan biasa-biasa saja tidak akan membawa hasil. Melamar pekerjaan ketika ribuan orang yang lain melakukan hal yang sama, apalagi ke perusahaan teknologi yang sedang populer.

Kemudian Javier meninggalkan sepenuhnya melamar pekerjaan dengan cara biasa. Sebagai gantinya dia pun memilih strategi inovatif lewat media sosial.

Memang butuh waktu pada awalnya, tapi satu tahun lebih strateginya mulai berjalan. Javier melakukannya dengan fokus terus-menerus. Dia akhirnya mendapatkan pekerjaan di bidang teknologi pertamanya di Snapchat.

Javier kemudian menggunakan strategi yang sama untuk mendapatkan pekerjaan dari Google, Cisco, LinkedIn, Facebook, Electronic Arts dan banyak lagi, tanpa pernah mengajukan surat lamaran. Luar biasa.

Tiga Elemen Kunci

Menurut Javier, ada tiga elemen kunci dalam strategi mendapatkan pekerjaan lewat media sosialnya, yaitu: Mengatur postingan dan permintaan koneksi; bersikap ramah dan humanis; dan menindaklanjutinya terus menerus.

1. Mengatur postingan dan permintaan koneksi

Begitu Javier memutuskan untuk mencari kerja lewat media sosial, khususnya LinkedIn, dia tahu dirinya harus berusaha keras membangun jaringan yang tepat.

Dia menyadari bahwa mengirim permintaan koneksi secara acak hanya akan membuang-buang waktu. Faktanya, tingkat tanggapannya hanya kurang dari 5% Tapi saat mengirim undangan yang dipersonalisasi, tingkat penerimaannya melonjak.

“Saya mengirim undangan yang dipersonalisasi ke lebih dari 100 koneksi potensial setiap minggunya. Mereka yang memiliki kesamaan dengan saya, apakah itu universitas, organisasi atau latar belakang etnis,” kisah Javier.

Menurutnya, dari 100 lebih undangan yang dikirim itu, hampir 60% menerima. Hal ini karena Javier telah telah meneliti secara menyeluruh bagaimana latar belakang mereka. Intinya, harus terkait dengan latar belakang kita.

Javier juga memposting di LinkedIn-nya setiap minggu tentang acara yang akan dia hadiri. Ini juga harus terkait dengan perusahaan yang menjadi targetnya.

“Saya melakukan ini karena strategi saya adalah bertemu dengan profesional dari perusahaan target saya, kemudian menandai mereka di posting LinkedIn,” jelas Javier.

“Saat mereka menyukai dan mengomentari postingan, harapan saya adalah jaringan mereka akan melihatnya, dan itu berhasil,” tambahnya lagi.

Intinya, memanfaatkan fitur di media sosial seperti perpesanan, membuat konten, dan branding adalah kunci kesuksesannya.

2. Bersikap ramah dan humanis

Membuat kontak untuk pertama kalinya memang penting, tapi bagi Javier mengembangkan hubungan yang nyata adalah tantangan lain. Ini sangat bergantung pada EQ ketimbang IQ.

Sikap yang ramah dan bersahabat adalah kuncinya, daripada hal-hal yang bersifat transaksional.

“Saya mengerti, semakin banyak orang yang saya jangkau dengan pendekatan yang ramah dan humanistik, semakin banyak tanggapan yang saya dapatkan,” jelasnya.

Javier akan menanyakan kepada koneksi barunya tentang kisah mereka, pengalaman mereka dengan perusahaan, dan kemudian menindaklanjutinya.

Dia juga memastikan untuk mempertahankan mentalitas yang sehat selama proses itu berlangsung.

“Pencarian kerja adalah permainan mental. Penolakan adalah ‘keberhasilan yang tertunda’ selama Anda menanggapinya dengan cara yang benar,” kata Javier.

3. Menindaklanjutinya terus menerus

Setiap profesional yang bermain dalam jejaring media sosial harus siap dengan hubungan jangka panjang. Kunci sukses mereka sebenarnya adalah kemampuan untuk menindaklanjuti (follow up), sehingga mereka dapat berpindah dari sebuah hubungan menjadi peluang.

Javier mengembangkan pendekatan yang cukup ketat untuk memelihara hubungan penting ini.

“Setiap 3 bulan sekali saya memperbarui (profil) saya terkait karir dan lain-lain, dan akan meminta update tentang mereka juga.”

Berikut adalah contoh pesan yang akan dikirimkan Javier ke koneksi mereka:

Hai (Nama),

Semoga Anda baik-baik saja sejak terakhir kali kita berbicara dalam (bulan). Sekali lagi terima kasih atas semua bantuan Anda sepanjang karier saya.

Saya ingin memberi Anda pembaruan singkat tentang apa yang telah saya lakukan selama 3 bulan terakhir:

Pembaruan # 1
Pembaruan # 2
Pembaruan # 3

Senang rasanya mendengar kabar Anda. Terima kasih, dan semoga harimu menyenangkan.

Namun begitu, Javier paham bahwa meskipun media sosial itu memiliki kekuatan, tapi untuk mengubah jaringan koneksi menjadi tawaran pekerjaan bukanlah keajaiban. Makanya, dibutuhkan tindak lanjut dan ketekunan tanpa henti, namun tetap dengan cara yang tidak mengganggu.

Javier yang sukses menggunakan metodenya itu, pada 2019 bekerja sama dengan Jerry Lee, teman magangnya di Google, untuk mengubah strategi mereka menjadi bisnis.

Sekarang, Javier dan temannya itu mengembangkan perusahaan bernama Wonsulting untuk mengajarkan kepada para milenial metode yang tidak biasa dalam mendapatkan pekerjaan impian, yakni menggunakan media sosial. Motto mereka adalah, “mengubah pecundang menjadi pemenang”.

Apa yang bisa dipelajari dari Javier adalah bagaimana dia meninggalkan cara-cara lama, dan menemukan cara baru untuk memenangkan “permainan”. Begitulah seharusnya anak muda.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...