Bukhara Pesona Kota Peradaban Islam

Siapa yang tak kenal Kota Bukhara, tanah kelahiran dari ulama hadits yang amat penting dan masyhur di dalam dunia ilmu dan kebudayaan Islam, yakni Imam Bukhari.

Baru-baru ini kota yang menyimpan sejuta pesona tersebut dipilih sebagai Ibu Kota Kebudayaan Islam tahun 2020 bersama kota-kota bersejarah lainnya, seperti Kairo di Mesir dan Bamako di Mali.

Pemilihan dilakukan oleh konferensi kementerian di bidang kebudayaan kesembilan, yang pesertanya merupakan negara anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC).

Sebelumnya, Kota Bukhara juga ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia UNESCO.

Bukhara yang juga disebut sebagai Kubbatul Islam atau Gumbazi Islam tercatat telah beberapa kali menjadi Ibu Kota Kebudayaan Islam. Bukan tanpa alasan, karena Bukhara memang menyimpan sejarah ilmu dan kebudayaan yang penting bagi Islam dan juga dunia.

Bukhara kini adalah bagian dari Uzbekistan, tepatnya berada di sebelah barat negara itu. Ia merupakan kota tertua di negara itu. Bukhara memiliki bangunan-bangunan tua bersejarah yang bernilai seni tinggi, megah, unik dan juga menawan. Keindahan alam kotanya juga tak kalah menawan.

Sejarah Bukhara

Penyair kenamaan Jalaluddin Rumi pernah menyanjung Bukhara di dalam syairnya:

“Bukhara sumber pengetahuan. Oh, Bukhara pemilik pengetahuan.”

Menurut catatan, nama Kota Bukhara berasal dari bahasa Mongol, yakni ‘Bukhar’ yang artinya lautan ilmu. Dalam sejarah Islam, wilayah itu dulunya dikenal dengan sebuah sebutan Wa Wara’ an-Nahr atau daerah-daerah yang bertengger di sepanjang Sungai Jihun.

Kota ini berada di jalur sutera. Makanya tak mengherankan jika sejak dulu Bukhara sudah menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan agama. Di kota inilah bertemu para saudagar dari berbagai negara di Asia Barat, termasuk Cina.

Konon, Kota Bukhara awalnya dibangun oleh raja Siavush anak dari Shah Kavakhous dari Dinasti Pishdak, Iran.

Sejak 500 SM Bukhara menjadi wilayah kekuasaan Kekaisaran Persia. Namun seiring waktu, kota ini berpindah tangan dari satu kekuasaan ke kekuasaan lainnya. Mulai dari Alexander Agung, kekaisaran Hellenistic Seleucid, Greco-Bactaian dan Kerajaan Kushan.

Sebelum Islam masuk, penduduk Bukhara adalah penganut agama Zoroaster yang menyembah api. Kehidupan mereka mulai berubah ketika Islam datang.

Islam pertama kali datang di Bukhara pada sekitar 674 M di bawah pimpinan panglima perang Ubaidillah bin Ziyad. Namun, pengaruh Islam mulai benar-benar mendominasi sejak 710 M di bawah kepemimpinan Kutaiba bin Muslim.

Tahun 850 M, Bukhara menjadi ibu kota Dinasti Samanid. Dinasti ini menghidupkan kembali bahasa dan budaya Iran. Mereka berkuasa sekitar 150 tahun dan menjadikan Bukhara tidak saja sebagai pusat pemerintahan, tapi juga pusat perdagangan.

Di Bukhara berkembang bisnis pembuatan kain sutera, tenunan kain dari kapas, karpet, katun, produk tembaga, serta perhiasan dari emas dan perak. Bukhara juga dikenal sebagai pasar induk yang menampung produk-produk dari Cina dan Asia Barat. Selain itu, lahan pertanian di Bukhara juga subur karena dialiri Sungai Jihun, di kota ini buah-buahan melimpah.

Tidak hanya itu, Bukhara kemudian menjadi pusat intelektual bagi dunia Islam. Di kota ini bermunculan madrasah-madrasah yang mengajarkan ilmu pengetahuan. Di setiap perkampungan berdiri sekolah-sekolah. Sementara keluarga yang kaya raya mendidikkan putera-puterinya dengan sistem sekolah di rumah atau yang sekarang dikenal sebagai home schooling.

Berbagai ilmu pengetahuan berkembang di kota ini, seperti ilmu agama, aritmatika, hukum, logika, musik serta puisi.

Tak heran, jika kemampuan penduduk Bukhara dalam menulis dan menguasai ilmu pengetahuan sangat luar biasa. Dari Bukahara lahirlah sederet ulama dan ilmuwan muslim yang masyhur hingga sekarang. Sebut saja ulama sekaliber Imam Bukhari dan Ibnu Sina, dan sederet nama lain.

Pesona kota Bukhara masa lalu meredup ketika kekuasaan Sultan Ala’udin Muhammad Khawarizm Syah berakhir. Pada tahun 1220 M, terjadi peperangan hebat antara pasukan Sultan Ala’udin dengan pasukan Mongol di bawah komando Jengiz Khan.

Sekitar 70 ribu pasukan Mongol menyerang secara brutal Kota Bukhara, dan kota itu jatuh ke tangan Mongol. Dengan kejam, mereka membantai penduduk kota, membakar madrasah, masjid dan bangunan penting lainnya.

Di era modern, Bukhara pernah berada di bawah kekuasaan Rusia, kemudian masuk ke dalam kekuasaan Uni Soviet, setelah sebelumnya menjadi perebutan antara Rusia dan Inggris.

Setelah Uni Soviet terbentuk, Tajiks yang merupakan bagian dari Uzbekistan menuntut kemerdekaan. Namun Rusia yang mendukung Uzbekistan atas Tajiks, menyerahkan Kota Bukhara yang secara tradisional berbahasa dan berbudaya Iran dan Samarkand itu kepada Uzbekistan.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...