Berapa Cangkir Kopi yang Aman untuk Anda Minum?

Bagi sebagian besar orang, minum kopi mungkin telah menjadi kebiasaan. Saat bekerja di kantor, di rumah atau di luar ruangan. Baik pekerja berat ataupun pekerja santai.

Di sejumlah negara, termasuk di Indonesia minum kopi atau ‘ngopi’ telah menjadi tradisi. Di setiap perkumpulan, meeting atau sekadar kongkow, selalu saja ada tawaran minum kopi.

Bagi maniak kopi, mungkin tiga cangkir kopi sehari tidaklah cukup. Apalagi saat jadwal kerja dan meeting begitu padat.

Tapi sebetulnya, berapa cangkir kopi sih yang aman diminum dalam sehari?

Menurut sejumlah pakar kesehatan, sebagaimana dikutip thehealthy.com, itu tergantung dengan kondisi masing-masing orang, terutama kondisi kesehatannya.

Setidaknya ada dua karakter peminum kopi. Pertama, ada orang yang gelisah walau hanya minum setengah cangkir. Kedua, orang yang tidak merasakan apa-apa, bahkan bisa tidur nyenyak walau telah menghabiskan secangkir kopi.

Pada dasarnya, orang dewasa yang sehat, aman mengonsumsi hingga 400 mg kafein dalam sehari. Kira-kira, 4 hingga 5 cangkir kopi.

Tapi kembali lagi pada kondisi-kondisi berikut:

Pertama, Kandungan Kafein di Dalam Kopi

Kadar kafein di dalam kopi sangat bervariasi, tergantung dari jenis cangkir atau gelasnya hingga cara mengolah dan menyajikannya.

Rata-rata 8 ons kopi yang diseduh dalam cangkir mengandung sekitar 95 mg kafein. Tapi sebuah penelitian tahun 2014 yang diterbitkan jurnal Food and Chemical Toxicology menemukan kadarnya antara 75-165 mg kafein.

Pada kopi tertentu sepert latte, mocha, cappuccino atau americano ditemukan 63-126 mg kafein per porsi 8 ons.

Kedua, Sensitivitas Terhadap Kafein

Sensitivitas orang terhadap kafein tentu berbeda-beda. Bagi sebagian orang, satu cangkir kopi saja dalam sehari dapat menyebabkan efek yang tidak nyaman seperti gelisah, gugup, dan susah tidur.

Tapi ada juga orang yang bisa menoleransi kadar kafein lebih dari batas yang disarankan, tanpa merasakan efek samping apapun.

Hal ini disebabkan, karena orang memiliki perbedaan genetik yang menghasilkan perbedaan dalam sistem enzim hati yang bertanggung jawab untuk metabolisme atau memecah kafein dalam tubuh.

Ketiga, Toleransi Kafein Karena Gaya Hidup

Selain perbedaan genetik, toleransi terhadap kafein juga bisa disebabkan oleh gaya hidup. Ada orang yang awalnya merasakan efek samping kafein pada dosis tertentu. Tapi lama-kelamaan, ia malah membutuhkan jumlah kafein yang lebih tinggi.

Kebiasaan merokok juga dapat membuat seseorang kurang sensitif terhadap kafein. Rokok menginduksi produksi enzim hati yang memecah kafein, artinya, perokok memetabolisme kafein lebih cepat sehingga memerlukan lebih banyak untuk merasakan efeknya.

Keempat, Kondisi Kesehatan dan Pengaruh Obat-obatan

Kondisi kesehatan dan konsumsi obat-obatan tertentu mungkin memaksa orang tidak mengonsumsi kafein secara berlebihan. Seperti sakit jantung dan depresi. Begitu dengan penderita gangguan tidur, migrain, atau penyakit GERD.

Kafein dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah sehingga jumlah yang tinggi dapat menimbulkan risiko bagi penderita penyakit jantung dan hipertensi.

Sejumlah obat-obatan berinteraksi negatif dengan kafein sehingga orang yang mengonsumsinya disarankan menghindari kafein, termasuk ngopi.

Kelima, Kehamilan

Sangat penting untuk membatasi asupan kafein Anda jika Anda hamil.

Menurut National Library of Medicine’s Drug and Lactation Database di Amerika, kafein dimetabolisme lebih lambat pada wanita hamil.

Artinya, wanita hamil mungkin lebih sensitif terhadap kafein, meskipun belum ada konfirmasi ilmiah tentang kadar aman kafein yang pasti, bagi janinnya. Tentu saja terkait hal ini, penting untuk berkonsultasi dengan dokter.

Ibu menyusui juga perlu menjaga konsumsi kafein karena bisa mempengaruhi bayinya lewat ASI. Bayi prematur mungkin lebih sensitif terhadap kafein dalam ASI.

Nah, dengan demikian untuk mengukur seberapa banyak kopi yang aman untuk Anda konsumsi, caranya cukup sederhana. Perhatikan saja reaksi tubuh Anda terhadap kafein dalam kopi yang Anda konsumsi.

Jika Anda merasakan perubahan pada tubuh seperti gejala tidak nyaman, peningkatan kecemasan, sakit kepala, jantung berdebar, atau insomnia setelah minum kopi, ini bisa jadi disebabkan konsumsi kafein yang terlalu banyak.

Tapi, jika Anda merasa baik-baik saja, tidak mengalami efek samping apa pun, tentu saja tidak ada alasan bagi Anda untuk berhenti minum kopi. Terkecuali, pada siang hari di bulan Ramadhan.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...