Begini, Cara Pengelolaan Daging Kurban Saat Pandemi versi MUI

Perayaan Idul Adha tahun 2020 bakal sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan pandemi Covid-19 yang belum juga mereda.

Pemerintah telah melonggarkan pelaksanaan sejumlah ibadah secara berjamaah meskipun dengan pembatasan sesuai protokol kesehatan, seperti menjaga jarak fisik serta mencuci tangan pakai sabun.

Salah satu ibadah di hari raya Idul Adha yang berpotensi menimbulkan kerumunan, selain salat Id adalah penyembelihan hewan kurban.

Sudah lazim bagi umat Muslim di Indonesia, penyembelihan hewan kurban dilaksanakan di halaman atau pelataran masjid, atau lapangan terbuka di sekitar masjid, yang disaksikan oleh masyarakat sekitar.

Setelah proses penyembelihan selesai, masyarakat biasanya menyemut, mengantri pembagian daging kurban. Kebiasaan ini yang bakal diatur dengan sebaik mungkin, agar mengurangi kontak fisik sesama warga masyarakat yang dapat menjadi penyebab penularan Covid-19.

Setelah sebelumnya Kementerian Agama, juga Kementerian Pertanian mengeluarkan surat edaran soal pengaturan penyembelihan hewan kurban di masa pandemi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengeluarkan pedoman terkait hal tersebut sebagai pegangan bagi umat Muslim.

Pedoman tersebut tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 36 tahun 2020 tentang Salat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban saat Wabah Covid-19.

Berikut ini poin-poin protokol kesehatan yang harus dipenuhi saat penyembelihan hewan kurban menurut fatwa MUI:

  • Orang-orang yang terlibat dalam proses penyembelihan harus saling jaga jarak (physical distancing) dan meminimalisir terjadinya kerumunan.
  • Selama kegiatan penyembelihan berlangsung, pelaksana harus menjaga jarak fisik, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun di area penyembelihan, setiap akan mengantarkan daging kepada penerima, dan sebelum pulang ke rumah.
  • Penyembelihan hewan kurban dapat dilaksanakan bekerja sama dengan rumah potong hewan dengan menjalankan ketentuan Fatwa MUI Nomor 12 Tahun 2009 tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Halal.
  • Jika tidak memungkinkan bekerja sama dengan rumah potong hewan, maka penyembelihan dilakukan di area khusus dengan memastikan pelaksanaan protokol kesehatan, aspek kebersihan dan sanitasi, serta kebersihan lingkungan.
  • Pelaksanaan penyembelihan kurban bisa mengoptimalkan keleluasaan waktu selama empat hari, mulai setelah pelaksanaan salat Idul Adha, 10 Dzulhijjah hingga sebelum maghrib pada 13 Dzulhijjah.
  • Pendistribusian daging kurban dilakukan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Sementara itu, mengenai pengelolaan daging hewan kurban selama masa pandemi Covid-19, MUI juga menghimbau pelaksanaan pendistribusiannya dengan 3 alternatif cara berikut, sebagaimana disampaikan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni’am Sholeh kepada sejumlah media:

1. Segera didistribusikan

Ini cara yang biasa dilakukan dari tahun ke tahun setiap Idul Adha, dan merupakan yang disunahkan, yaitu untuk didistribusikan dengan segera setelah disembelih.

“Dengan segera dibagikan, manfaat dan kebahagiaan yang diperoleh usai menikmati daging kurban bisa segera terealisasi,” kata Asrorun.

Menurutnya, daging hewan kurban disunahkan untuk dibagikan dalam bentuk daging mentah untuk yang membutuhkannya di wilayah terdekat, berbeda dengan aqiqah yang dibagikan setelah matang.

Pendistribusian secara langsung tersebut harus diatur dengan memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

2. Diolah lebih dulu

Menurut MUI, atas pertimbangan kemaslahatan, daging kurban juga dapat diolah dan diawetkan terlebih dulu. Daging kurban bisa diolah menjadi kornet, rendang, atau sejenisnya.

Bisa jadi, karena dampak Covid-19 banyak orang merasa sulit jika dibagikan dalam bentuk daging mentah, karena ia harus memasaknya.

“Untuk kemaslahatan, bisa dibagikan dalam bentuk matang. Bahkan bisa dalam bentuk kornet atau makanan olahan siap saji lainnya,” kata Asrorun.

3. Diawetkan dan dibagikan tunda

Pengelolaan daging kurban dengan cara seperti ini bisa dilakukan jika tidak ada kebutuhan mendesak. Selain itu, jika daging kurban diterima dalam jumlah yang melimpah.

Pengawetan bertujuan memaksimalkan manfaat dan memperluas wilayah cakupan distribusi daging kurban tersebut.

Menurut MUI, menyimpan sebagian daging kurban yang telah diolah dan diawetkan dalam waktu tertentu untuk pemanfaatan dan pendistribusian kepada yang lebih membutuhkan adalah mubah (boleh), syaratnya tidak ada kebutuhan yang mendesak. Ini sejalan dengan Fatwa MUI Nomor 37 tahun 2019.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...