Bank Digital

Belakangan ini, ramai di lini massa media sosial tentang pasar saham yang terkait Bank Digital. Apa yang dimaksud bank digital?

Bank digital atau layanan perbankan digital adalah layanan perbankan elektronik yang dikembangkan dengan mengoptimalkan pemanfaatan data nasabah dalam rangka melayani nasabah secara lebih cepat, mudah, sesuai dengan kebutuhan (customer experience), serta dapat dilakukan secara mandiri sepenuhnya oleh nasabah, dengan tetap memperhatikan aspek pengamanan.

Layanan tersebut dapat disediakan oleh bank dan mitra bank berdasarkan perjanjian kemitraan. Namun perlu diingat, produk yang ditawarkan oleh mitra bank selain lembaga jasa keuangan berupa bank, tidak termasuk dalam cakupan program penjaminan. Sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan tentang Lembaga Penjamin Simpanan (pasal 1, 8, 17 POJK 12, 2018).

Jika mengamati Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) bank digital, sebenarnya makna digital lebih merujuk pada mengakomodasi kemajuan teknologi informasi yang sudah sedemikian rupa, sehingga pelayanan jasa perbankan dapat diperluas dan menjadi lebih mudah.

Namun tetap diingat, bahwa penjaminan oleh LPS tidak berubah, sesuai dengan standar layanan perbankan selama ini.

Ini perlu ditegaskan, agar masyarakat tidak ‘terkecoh’, bahwa layanan yang diberikan oleh sebuah bank (walaupun dalam brand yang resmi) tidak berarti dilindungi oleh LPS apabila produk tersebut tidak sesuai dengan peraturan LPS.

Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Pada dasarnya, bank digital merupakan antisipasi terhadap perubahan lingkungan eksternal, dimana secara konsep manajemen strategik memang wajib dilakukan oleh semua institusi bisnis, tujuannya untuk menyesuaikan diri.

Kemajuan teknologi informasi telah mengubah pola bisnis secara mendasar, diantaranya: (i) transaksi online yang mengurangi kendala ruang, waktu, dan biaya; (ii) timbulnya bisnis baru berbasis online; dalam skala yang sangat luas; dan (iii) munculnya pelaku bisnis dari skala kecil hingga sangat besar.

Baca juga: Saham dan Milenial

Sebenarnya, jika merujuk pada penyimpanan data oleh bank, maka bank sebenarnya telah lama melakukan penyimpanan elektronik, misalnya saja melalui ATM. Jadi secara basis awal, bank bukanlah industri yang seharusnya gagap menghadapi digitalisasi, malah mungkin sebaliknya adalah pelaku industri yang pertama.

Munculnya pelaku bisnis online seperti Tokopedia, Gojek, Traveloka, dll., pada pemanfaatan teknologi informasi mempertemukan dua sisi bisnis (demand-supply), di mana secara risiko yang dikelola, relatif belum sebesar risiko mengelola data keuangan di perbankan.

Coba saja, apabila ada yang keliru dari data keuangan nasabah bank, maka dampaknya akan jauh lebih besar dibanding pelaku bisnis lainnya. Jadi, dari sisi pengalaman, bank sesungguhnya telah memiliki keahlian alami untuk mengelola dan mengamankan data nasabah.

Pada bank digital, bank dapat bekerja sama dengan mitra perbankan.

Dalam hal apa pola kerja sama ini? Yang jelas, bank tidak boleh melanggar undang-undang dan harus selalu diingat, produk bank, per versi LPS tidak berubah. Jadi, ragam jasa yang ditawarkan oleh bank menjadi lebih besar atau ramai, tapi itu merupakan ranah baru bagi bank.

Jika bank, memanfaatkan data dari platform industri online semisal Tokopedia, Gojek, Traveloka, apakah yang dilakukan oleh bank?

Nah, ranah ini adalah ranah ‘jasa’ yang mungkin baru ditawarkan oleh bank. Ada tiga hal yang tetap harus dipertimbangkan oleh bank: (i) biaya penyelenggaraan untuk bisnis ini; (ii) manfaat ekonomis yang diterima; dan (iii) kesiapan teknologi.

Bank tidak serta merta mendapatkan return positif. Selama ini juga, bank sebenarnya telah mengembangkan aplikasi berbasis teknologi informasi, semacam e-wallet dan lain sebagainya, sehingga sebenarnya bank tidak terlalu gagap.

Ilustrasi. (Foto: FreePik)

Jika bank “ketiban rezeki” nasabah dari pelaku bisnis online (misalkan 10 juta nasabah), apa yang terjadi pada bank?

Di sini tetap ada dua potensi: (i) peluang dan (ii) risiko atas peluang tersebut. Biaya penyelenggaraan teknologi kemungkinan sekali sangat mahal karena menyangkut aspek kenyamanan dan keamanan.

Dari sisi ini, bank kecil tentu akan kesulitan menyelenggarakannya. Ada potensi merger dari bank-bank kecil, atau ada suntikan dana dari pihak luar, dengan kata lain, akuisisi dari bisnis bukan bank, katakanlah pelaku e-commerce atau marketplace.

Apakah bank tersebut akan besar? Apakah bank tersebut dapat memanfaatkan ‘big data’ dari e-commerce tersebut?

Tampaknya, secara matematis masih perlu beberapa langkah namun secara angan-angan, issue, bank sudah berlari berpuluh-puluh Langkah.

Sebagai ilustrasi, ada sebuah bank dibeli oleh kelompok otomotif. Walaupun kelompok otomotif tersebut sangat kuat atau besar, namun bank tampaknya tidak terlalu ramai, merugi dan lalu dijual.

Jika bank diibaratkan sebuah kapal, maka bank digital adalah muatan kapalnya. Kemampuan menyebrangi lautan ditentukan oleh kapal dan nakhodanya, sedangkan keselamatan barang-barang di kapal, adalah bagaimana bank tersebut meletakkan barang-barang tersebut secara baik atau tepat.

Terakhir, tulisan ini hanya dari sudut pandang yang jauh, dan keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab mandiri dari investor.

(Editor: Imam Tamaim)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...