Bahaya Ghaflah dan Pentingnya Dzikrullah

Salah satu pentingnya berdzikir bagi seorang muslim ialah agar ia tidak menjadi orang yang lalai (ghaflah) dalam mengingat Allah.

Lalai dalam mengingat Allah (dzikrullah) akan menimbulkan aneka keburukan atau berpotensi buruk bagi kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

Mengingat Allah (dzikrullah) tidak hanya terbatas pada dzikir dengan lisan dengan mengucapkan atau menyebutnya.

Qalbu, penglihatan, pendengaran juga sudah semestinya digunakan untuk berdzikir. Sebab ketiganya bisa mengaitkan dan menghubungkan segala sesuatunya dengan Allah. Ini juga dinamai dzikrullah.

Apabila dzikrullah ini diabaikan dan ditinggalkan karena kelalaian (ghaflah), maka manusia bisa berpotensi lebih buruk dari binatang ternak.

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ

Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (QS. Al-A’raf: 179).

Bahaya Ghaflah

Ghaflah berasal dari kata ghafala yang memiliki makna sekitar melupakan, melewatkan, mengabaikan, tidak waspada, tidak perhatian, tidak siaga, tidak hadir (ghaib) nya sesuatu dalam benak pikiran, dan tidak ingat.

Jadi secara bahasa ghaflah itu adalah Carelessness (kesembronoan), heedlessness (ketidakpedulian), inadvertence (kelengahan/kelalaian), inattention (kurang perhatian), negligence (kealpaan).

Orang yang ghaflah dia akan lalai dalam menyebut atau mengingat Allah atau mengaitkan segala halnya dengan Allah. Sehingga dia akan sembrono dalam berucap dan bertindak, lalai dalam bertugas dan bekerja, cuek terhadap lingkungan dan keadaan sekitar.

Foto: Andrea Piacquadio.

Jika seseorang termasuk ghafilin, dia tidak siaga mempersiapkan apa yang semestinya dipersiapkan. Abai untuk melaksanakan kewajiban dan menjuhi larangan. Dia tidak waspada pada apa yang akan menimpanya.

Dia tidak memiliki perhatian kepada sesama makhluk Allah, serta lengah sehingga mudah memperturutkan hawa nafsu dan mudah digoda setan. Dia juga alpa dari tugas dia sebagai manusia di muka bumi ini.

Inilah mengapa Allah memerintahkan kita agar senantiasa banyak mengingat-Nya dalam setiap keadaan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (Nya) sebanyak-banyaknya. (QS. Al-Ahzab: 41).

Baca Lainnya
Komentar
Loading...