Bagaimana Kreativitas Membuat Bisnis Bertahan

Di kota Praha, Republik Ceko ada kue yang sedang viral belakangan ini, namanya “kue virus”. Makanan penutup ini memang terinspirasi oleh virus korona yang menjadi musabab pandemi global Covid-19.

Meski negara tersebut masih menetapkan status darurat, namun warga kota tetap ramai mengantre untuk mencicipi kue yang tengah menjadi pembicaraan itu.

Kue seukuran bola tenis, berlapis cokelat dengan isian pistachio dan raspberry dengan paku virus dari cokelat putih dan raspberry kering itu, di jual di sebuah kafe di Praha bernama Black Madonna.

Orang-orang tertarik untuk membelinya karena kue itu viral di media sosial. Menurut pengelola kafe yang berdiri sejak 1911 itu, pihaknya membuat kreativitas makanan penutup untuk menghadapi penurunan bisnis akibat yang dipicu pandemi. Untuk diketahui, Ceko termasuk negara dengan tingkat infeksi korona tertinggi di Eropa.

Terbukti, kreativitas pengelola kafe ini sukses besar. Mereka berhasil meningkatkan penjualan produk barunya hingga tiga digit setiap harinya dan masih terus meningkat.

Bioskop dan Konser Drive-In

Di tempat lain, sejumlah pelaku bisnis event dan hiburan melakukan kreativitas agar bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Bisnis ini memang yang paling terdampak oleh pandemi. Banyak konser, festival, acara olahraga dibatalkan. Sementara, perusahaan mereka tetap harus hidup.

Membuat pertunjukan film atau konser secara drive-in, di mana pengunjung menyaksikan pertunjukan dari dalam mobilnya masing-masing adalah satu kreativitas yang bisa membuat bisnis mereka bertahan.

Dengan bioskop dalam ruangan yang masih ditutup otomatis para pecinta film berbondong-bondong ke drive-in untuk menonton film terbaru. Begitu juga dengan penggemar konser musik.

Event semacam ini digelar di sejumlah tempat terbuka seperti di tempat parkir mal, tempat konser hingga stadion olahraga yang sudah tidak digunakan, bahkan ada juga di dermaga atau lapangan terbuka. Fenomena ini menjadi tren di kota-kota besar di berbagai negara.

Kreativitas memunculkan model bisnis baru

Pandemi Covid-19 di satu sisi menenggelamkan banyak sektor bisnis, tapi di sisi lain menumbuhkan kreativitas dan inovasi berbagai model bisnis. Memaksa para pelaku bisnis untuk menjadi kreatif.

Kemudian lahirlah model pertemuan virtual via Zoom, kelas kebugaran online, atau model take away pada bisnis makanan. Hampir setiap industri memutar otak untuk melewati krisis ini. Dan, beberapa solusi dari mereka bahkan sangat kreatif.

Tapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan kreatif di saat-saat yang penuh tantangan ini?

Kenapa sejumlah bisnis berhasil, sementara yang lain gagal?

Pada dasarnya setiap orang, saat ini hidup di tengah ketidakpastian, termasuk para pelaku bisnis.

Untuk merespon itu, dunia bisnis mendorong kreativitas dalam berbagai bentuk. Mulai dari mengembangkan produk atau layanan baru hingga perubahan dalam proses atau bahkan mengubah model bisnis secara keseluruhan.

Di Skotlandia, misalnya, bisnis keluarga bernama Dunn’s Food & Drink, yang selama 145 tahun menjual produknya langsung ke sektor perhotelan, menghadapi kehilangan 90% bisnisnya hampir dalam semalam.

Mereka pun dengan cepat mengubah model bisnis lamanya dengan mulai menjual produk untuk publik.

Perusahaan itu kemudian mengembangkan sebuah aplikasi bagi pengemudi untuk membantu logistik dan memfasilitasi pesanan pelanggan. Respons kreatif yang biasanya butuh waktu berbulan-bulan itu, terjadi hanya dalam tiga minggu.

Mereka juga merespon dengan cepat misalnya, dengan mengurangi kemasan ukuran industri. Misalnya dengan mengurangi ukuran karung beras yang biasanya dikirim dalam 25kg.

Pertanyaannya, apakah perusahaan itu akan kembali ke model bisnis lama setelah pandemi selesai? Jika dilihat dari investasi besar yang telah dikeluarkan, tampaknya tidak mungkin.

Jadi, apa syarat kreativitas itu bisa berhasil membuat bisnis bertahan?

Pertama, respon cepat

Untuk menjadi kreatif, sebuah bisnis perlu memiliki pikiran terbuka dan membuat koneksi, serta mencari solusi baru untuk masalah yang sebelumnya tidak ada.

Dan yang terpenting, mereka perlu belajar dengan cepat dari kesalahan. Ini bukan hanya tentang menghasilkan ide-ide kreatif, tapi bagaimana menerapkannya dalam menanggapi perubahan yang cepat.

Sementara dalam situasi pandemi, hanya ada sedikit waktu untuk menguji ide-ide kreatif yang baru, dan bisnis harus menjalankannya begitu saja. Nah, karena itu memiliki kemampuan kreatif dan motivasi untuk merespon cepat dan melakukan perubahan sangat penting untuk kelangsungan hidup banyak perusahaan.

Bisnis perlu mengetahui aturan baru saat mulai diberlakukan, memahami selera pelanggan yang berubah, dan mengembangkan keterampilan baru untuk menerapkan respons kreatif.

Kedua, tetap gesit

Saat pandemi, banyak industri restoran yang tutup permanen. Tapi, banyak pula yang secara kreatif menangkap peluang baru dengan gesit. Mereka beradaptasi dengan berbagai cara saat pembatasan sosial mulai diberlakukan, misalnya dengan beralih ke digital.

Kreativitas tentu sangat membantu sebuah bisnis agar tetap bertahan dari tekanan krisis dan mengamankan tempat mereka di dunia yang bergejolak, tidak pasti, kompleks dan ambigu seperti sekarang ini.

Nah, sudahkah Anda merespon situasi ini dengan kreativitas?

Baca Lainnya
Komentar
Loading...