Bagaimana Jika Bulu Ayam Menjadi Bahan Pangan?

Pernahkah Anda membayangkan menyantap makanan yang berasal dari bulu ayam? Tentu saja karena belum terbiasa, juga tidak lazim, tentu Anda akan merasa kurang nyaman.

Kecuali, mungkin jika bulu-bulu ayam itu dikemas dalam bentuk kapsul, untuk dikonsumsi sebagai sumber protein. Bulu, tulang, atau rambut hewan memang lazim digunakan dalam industri obat-obatan dan kosmetik.

Tapi di tangan seorang peneliti muda asal Thailand, bulu ayam disulap menjadi makanan semacam steak. Meski masih dalam tahap uji coba, seorang blogger kuliner mengakui bahwa rasa makanan dari bulu ayam itu tidak berbeda dengan santapan lain.

(Foto: reuters.com)

“Teksturnya sangat kompleks dan canggih. Anda tidak akan membayangkan bulu ayam dapat berimprovisasi menjadi hidangan semacam ini,” kata Cholrapee Asvinvichit, seorang blogger sebagaimana dikutip Reuters, setelah menyantap steak bulu ayam yang disajikan dengan saus, kentang tumbuk dan salad.

Hathairat Rimkeeree, seorang profesor ilmu pangan di Universitas Kasesart, juga terkejut dengan hasilnya.

“Saya rasa ini memiliki potensi untuk menjadi sumber pangan alternatif di masa depan,” katanya.

Berawal dari Penelitian tentang Sampah Daur Ulang

Semua berawal ketika peneliti Thailand, Sorawut Kittibanthorn, mencari jenis sampah baru untuk didaur ulang. Mahasiswa yang ketika itu tinggal di London, kemudian tertarik dengan jutaan ton bulu ayam yang dibuang begitu saja setiap tahunnya.

Setelah pria 30 tahun itu kembali ke negaranya, Thailand, ia mencari dana untuk melanjutkan penelitiannya tersebut. Tujuannya adalah mencari cara terbaik untuk mengubah komponen nutrisi yang ditemukan pada bulu ayam menjadi bubuk yang dapat menjadi sumber makanan kaya protein dan tidak berlemak.

“Bulu ayam mengandung protein dan jika kita mampu menyajikan protein ini kepada banyak orang di dunia, ini akan membantu mengurangi limbah,” kata Sorawut, dikutip dari Reuters.

Jika bisa dimanfaatkan, memang potensinya sangat besar. Sorawut memperkirakan di Eropa saja, ada sekitar 2,3 juta ton bulu ayam dibuang begitu saja setiap tahunnya.

Dan dengan konsumsi unggas yang lebih tinggi di Asia, dia yakin akan ada hingga 30% lebih banyak limbah bulu ayam yang dapat dieksploitasi di wilayah ini.

Sorawut, yang menyelesaikan Master of Material Futures di London, mengatakan ide tersebut masih perlu melalui tahap penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Meskipun dia sudah berhasil membuat prototipe makanan dari bulu ayam yang mendapat komentar positif dari beberapa orang.

Di tengah kekhawatiran banyak negara tentang sumber pangan di masa depan, pria ini, dengan penelitiannya, telah menawarkan alternatif yang patut dipertimbangkan agar bulu ayam bisa menjadi sumber makanan yang etis.

Bagaimana Menurut Islam?

Bahan makanan, obat-obatan dan kosmetik dari limbah binatang seperti tulang, gigi, bulu, rambut sudah menjadi polemik dan pembahasan panjang dalam fikih Islam.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah punya kajian dan panduan tersendiri tentang hal ini. Seperti tertuang dalam Fatwa MUI Nomor: 47 Tahun 2012, tentang Penggunaan Bulu, Rambut dan Tanduk dari Hewan Halal yang Tidak Disembelih secara Syar’i untuk Bahan Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika.

Kesimpulannya, menurut fatwa MUI tersebut, bahwa bulu, rambut dan tanduk dari hewan halal (ma’kul al-lahm) yang disembelih secara syar’i hukumnya halal untuk kepentingan pangan, obat-obatan dan kosmetika.

Akan tetapi, bulu, rambut dan tanduk dari bangkai hewan halal, termasuk misalnya, yang tidak disembelih secara syar’i, statusnya suci dan boleh dimanfaatkan untuk barang gunaan non pangan, termasuk untuk obat luar dan kosmetika luar. Tetapi haram untuk dikonsumsi, termasuk untuk dijadikan bahan pangan.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...