Bagaimana Berbisnis Dengan Allah?

Menurut Ibnu Sina, ada tiga model hubungan manusia dengan Tuhannya.

Pertama, hubungan manusia dengan Tuhan seperti pembantu dengan tuannya. Dia yang rajin bekerja karena takut dimarahi oleh tuannya. Jadi bisa dikatakan dia berhubungan dengan Allah karena takut ancaman siksa dan masuk neraka.

Kedua, hubungan manusia dengan Tuhan karena ingin mendapatkan sesuatu ataupun keuntungan dari Tuhan, inilah hubungan pebisnis. Dalam melakukan sesuatu manusia ini selalu pertimbangannya adalah pahala dan surga.

Ketiga, seperti hubungan ibu dengan anaknya, yaitu hubungan atas dasar cinta. Dia tetap bahagia walaupun harus bangun malam dan tersiksa. Dia melakukan sesuatu karena cinta, tak peduli itu berat dan mengorbankan sesuatu.

Walau demikian, ketiga model hubungan ini diizinkan oleh Tuhan.

Lalu, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menambahkan model hubungan keempat, yaitu orang yang tidak peduli dengan ancaman maupun iming-iming keuntungan. Semua dilaksanakannya tanpa ingat neraka ataupun surga. Orang ini merasa itulah yang harus dilakukannya tanpa terbayang ada siksa atau nikmat.

Mantan menteri agama ini juga mengatakan bahwa dalam konteks hubungan dengan Tuhan, kamu harus berbaik sangka pada-Nya. Namun saat demi saat kamu mesti meningkatkan hubungan dengan Tuhan.

“Sedangkan untuk persoalan ikhlas atau tidak biarlah Tuhan yang menentukan,” ujarnya dalam akun YouTube Najwa Shihab.

Pendiri Pusat Studi Al Qur’an (PSQ) ini mengungkapkan bagaimana caranya berbisnis dengan Tuhan.

Pertama, laksanakan semua kewajiban. Kewajiban ini mutlak, sehingga tidak bisa ditinggalkan.

Kedua, setelah melaksanakan aneka kewajiban barulah kamu bisa memilih kegiatan yang paling disenangi Tuhan.

Lalu apa saja amalan yang paling disenangi Tuhan?

Banyak ayat yang bicara tentang yang disukai Allah, misalnya, Allah senang dengan orang yang berbuat baik (Muhsinin). Berbuat baik disitu artinya memberi lebih banyak dari kewajibannya dan menuntut lebih sedikit dari haknya.

Allah juga senang dengan orang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menghindari (Muttaqin). Jadi menghindari dari keburukan itu lebih baik dari membuat kebaikan.

Namun yang paling disenangi Allah secara keseluruhan, kata Penulis Tafsir Al Misbah itu adalah akhlak yang baik. Karena Islam itu diturunkan untuk menyempurnakan akhlak. Ada orang-orang mencapai derajat yang tinggi walaupun ibadah (ritualnya) biasa-biasa saja. Itu semua karena akhlaknya yang luhur.

Singkatnya, jadi kalau mau berbisnis, carilah yang mudah, yang sederhana, yang menunjukkan akhlak yang baik. Berakhlak kepada semua orang. Misalnya, senyum, ramah, menjamu tamu dan lain sebagainya.

Dalam berbisnis dengan Allah mirip berbisnis dengan manusia. Harus tetap memperhatikan apa yang dibutuhkan pasar. Artinya, Allah menyukai manusia yang melaksanakan kewajibannya tetapi juga tetap memperhatikan makhluk ciptaan-Nya.

Misalnya, adakalanya Allah lebih senang ibadah sosial dari pada dipersembahkannya ibadah ritual. Lebih baik membantu saudara atau tetangga yang sedang kesulitan daripada pergi umrah berkali-kali misalnya.

Perlu diingat, bahwa Allah tidak membutuhkan apapun. Jadi, berbisnis dengan Allah seluruhnya demi keuntungan manusia. Itulah tanda kasih sayang Allah.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...