Apa yang Dilakukan Medsos Terhadap Data Pengguna?

Sebagai pengguna media sosial, kita mungkin tidak pernah tahu secara jelas, apa yang dilakukan sejumlah media sosial dengan data-data kita. Padahal, di era digital seperti sekarang data adalah kunci, dan punya peran sangat penting dalam banyak hal.

Di Amerika, baru-baru ini, sejumlah perusahaan berbasis digital seperti Amazon, TikTok, Facebook dan lainnya tengah dimintai pertanggungjawaban soal data pengguna.

Oleh Federal Trade Commission (FTC), semacam Komisi Perdagangan, mereka diperintahkan untuk menjelaskan apa yang selama ini mereka lakukan terhadap data pengguna.

Komisi itu menuntut setidaknya 9 media sosial dan perusahaan teknologi yang kebanyakan berbasis di Silicon Valley itu. Meminta rincian tentang bagaimana mereka memanfaatkan data pengguna dan apa yang mereka lakukan dengan informasi tersebut.

Amazon.com, pemilik TikTok ByteDance, Discord, Facebook, Reddit, Snap, Twitter, WhatsApp (juga milik Facebook) dan YouTube telah diperintahkan oleh FTC untuk memberikan rincian soal pengumpulan data, termasuk praktik periklanan mereka.

Meskipun, perwakilan dari sejumlah perusahaan itu tidak segera menanggapi permintaan FTC.

Penyelidikan ini tergolong langkah baru dari pemerintah Amerika serikat untuk memantau aktivitas bisnis sejumlah perusahaan berbasis digital itu.

Tujuannya, mendorong mereka menjawab tudingan sejumlah pihak tentang penyalahgunaan data pengguna serta pelanggaran undang-undang anti-monopoli.

Perintah dilakukan setelah seminggu sebelumnya komisioner FTC dan 48 jaksa agung di Amerika mengajukan tuntutan hukum terhadap Facebook, dan menuduh raksasa media sosial itu telah secara tidak sah melakukan monopoli. Namun Facebook menolak tuduhan tersebut.

Komisioner FTC Rohit Chopra, Rebecca Slaughter dan Christine Wilson mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikutip npr.org, “Sangat mengkhawatirkan bahwa kita hanya tahu sedikit tentang perusahaan yang tahu banyak tentang kita.”

Mereka ingin perusahaan teknologi merinci seberapa banyak pengguna yang dimiliki oleh perusahaan, seberapa aktif mereka, dan berbagai hal yang diketahui tentang mereka.

Penyelidikan juga meminta perusahaan media sosial dan video streaming untuk memberikan informasi tentang bagaimana mereka memproses data yang dikumpulkan, praktik periklanan, serta bagaimana dampak bagi pengguna di bawah umur.

Big Tech

Di Amerika, Big Tech dan Big Data telah menjadi sorotan sepanjang tahun ini, menyusul dugaan banyaknya praktik penyalahgunaan data oleh berbagai situs digital.

The Wall Street Journal misalnya, melaporkan tentang bagaimana sebuah aplikasi berbagi informasi pengguna dengan Facebook.

Surat kabar tersebut, baru-baru ini juga mengungkapkan bahwa Amazon mengambil data dari penjual dan menggunakannya untuk membuat produk pesaing dari pihak mereka sendiri.

Mark Zuckerberg pemilik Facebook, Jeff Bezos dari Amazon, Sundar Pichai dari Google dan Tim Cook dari Apple sudah memberi kesaksian secara virtual di hadapan Kongres Amerika tentang hal ini.

Bezos mengakui perusahaannya mungkin saja telah menyalahgunakan data tersebut, namun dia mengatakan, perusahaannya sedang melakukan penyelidikan internal atas masalah tersebut.

Facebook dan Google juga tak lepas dari gugatan tentang pelanggaran undang-undang persaingan di negara tersebut. Bagaimana perusahaan-perusahaan ini berinteraksi dengan pengguna di bawah umur juga sedang dalam penyelidikan yang berwenang.

Data Harvesting

Pada Agustus lalu, para orang tua dari puluhan anak di bawah umur menggugat TikTok ke pengadilan. Mereka menuduh aplikasi tersebut telah mengumpulkan informasi tentang karakteristik wajah, lokasi, dan kontak dekat penggunanya.

TikTok diduga mengirimkan data-data itu ke servernya di China tanpa sepengetahuan pengguna, dan berpotensi membagikannya dengan Partai Komunis China.

TikTok telah menyangkal tuduhan tersebut, tapi mengakui pihaknya bisa saja membagikan informasi pengguna ke server miliknya, jika mau, dan tanpa melanggar undang-undang AS.

Di Norwegia, soal data pengguna juga menjadi kekhawatiran. Dewan Konsumen Norwegia telah menerbitkan laporan pada Januari lalu, tentang 10 aplikasi yang mengumpulkan informasi sensitif seperti lokasi pengguna, orientasi seksual, keyakinan agama dan politik, penggunaan narkoba, dan informasi lainnya dalam proses ‘pengambilan data’ atau yang dikenal dengan ‘data harvesting’. Aplikasi itu kemudian mengirimkan data pribadi tersebut ke setidaknya 135 perusahaan pihak ketiga.

Bagaimana dengan praktik yang terjadi di Indonesia? Kemungkinan setali tiga uang. Bukankah kita semua sering dapat kiriman SMS atau WhatsApp dari berbagai macam layanan dan jasa yang tidak kita kehendaki. Dari mana mereka punya data kita?

Baca Lainnya
Komentar
Loading...