Amaliah Tarekat, Haramkah?

Ulama terdahulu sudah banyak yang menjelaskan bahwa tarekat merupakan bagian dari tasawuf. Oleh karenanya, ajaran tarekat sah selama mempunyai sanad yang bersambung pada Rasulullah Saw.

Inti ajaran tarekat adalah berzikir dan mengingat Allah dengan beragam cara atau kaifiyah yang telah ditetapkan oleh para guru tarekat tersebut.

Dalam Tarekat Naqsyabandiyah, misalnya, dianjurkan membaca lafdzul jalalah yaitu Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Apabila kamu telah selesai mengerjakan sembahyang maka dzikirkanlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan ketika berbaring.” (QS. an-Nisa’: 103).

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “Hai orang yang beriman! Ingat (sebut) lah Allah sebanyak-banyaknya.” (QS. al-Ahzab: 41).

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah Saw bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سبق المفردون، قالوا: و ما المفردون يا رسول الله ؟ قال: الذاكرون الله كثيرا و الذاكرات.

“Terdahulu (masuk surga) orang-orang mufarridun. Sahabat bertanya: Siapakah mufarridun itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Orang-orang, laki-laki dan wanita yang banyak dzikir pada Allah.” (HR. Imam Muslim).

Beliau juga bersabda, “Tidaklah orang-orang yang duduk berkumpul berdzikir pada Allah kecuali Malaikat memeluk mereka, rahmat Allah menutupi mereka dan turunlah sakinah pada mereka serta Allah juga mengingat mereka. (HR. Imam Muslim).

Tentu saja, para guru tarekat mendasarkan amaliah tarekatnya pada dalil naqli tersebut. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh pimpinan para sufi, Imam Junaid al-Baghdadi bahwa:

علمنا هذا مقيد بالكتاب والسنة

“Ilmu (Tasawuf) kami ini berasaskan al-Qur’an dan as-Sunnah.”

Para guru tarekat, sebelum mengajarkan dan mengamalkan tarekat sudah mendalami ilmu syariat serta ditunjang oleh ilmu alat yang lengkap.

Dengan demikian, klaim barisan anti tasawuf bahwa amaliah tarekat haram hanya subyektif belaka serta mengikuti hawa nafsunya saja tanpa mendasarinya dengan argumentasi yang kuat.

Kontributor: Hafifuddin

Baca Lainnya
Komentar
Loading...