Ada Apa di Balik Orang Mendadak Kaya?

Beberapa hari lalu, lini masa media sosial dan pemberitaan media massa dihebohkan dengan warga sebuah desa di Kabupaten Tuban Jawa Timur yang memborong puluhan mobil baru setelah mereka mendadak kaya karena mendapat ganti rugi lahan.

Mayoritas warga Desa Sumurgeneng yang mayoritas petani ini seperti ketiban pulung setelah mendapat uang pembebasan lahan dari Pertamina yang jumlahnya miliaran rupiah. Lahan milik mereka akan digunakan untuk membangun proyek kilang minyak.

Tercatat, setidaknya ada 176 mobil yang dibeli para petani itu. Satu orang ada yang membeli langsung 3 unit, bahkan ada juga yang membeli mobil padahal di keluarga tidak ada yang bisa menyetir mobil.

Tentu saja, tidak semua yang mendapat uang pembebasan lahan membeli barang mewah itu. Ada juga yang lebih memilih membeli lahan di tempat lain, dan sisanya ditabung.

Tidak hanya di Tuban Jawa Timur, fenomena yang sama juga terjadi di Kuningan Jawa Barat.

Warga di sebuah desa mendadak kaya setelah lahannya digusur untuk pembuatan waduk. Uang gusuran digunakan warga untuk membeli sejumlah mobil baru.

Setidaknya ada enam desa yang terdampak pembangunan waduk. Satu harus bedol desa, pindah ke lokasi baru.

Selain mobil warga Desa Kawungsari, Kecamatan Cibeureum, Kuningan, ini juga ramai-ramai memborong motor baru.

Fenomena ini tentu saja memprihatinkan, apalagi di tengah banyak orang lain yang sedang ditimpa kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19 juga sejumlah bencana alam.

Apakah kaya mendadak secara psikologis bisa mendorong perilaku orang untuk melakukan foya-foya? Dan untuk tujuan apa?

Mengutip Careers and Money, ada sejumlah alasan yang melatarbelakangi fenomena ini di antaranya:

1. Sesuai psikologi manusia, memamerkan uang, kekayaan, dan harta benda lain seperti mobil bagi orang kaya adalah usaha untuk mendapatkan pengakuan.

2. Sejumlah analisis menyebutkan bahwa perilaku pamer kekayaan bisa disebabkan berbagai latar belakang, tapi yang paling umum dilatarbelakangi ketidakmampuan mereka memahami hubungan sosial dengan cara benar.

3. Ada anggapan bahwa memamerkan kekayaan bisa mendatangkan kebahagiaan. Dengan membeli barang-barang mahal seperti mobil mereka hanya ingin mengatakan kepada diri mereka sendiri, bahwa mereka bisa bahagia.

Agama mengajarkan, kebahagiaan itu dapat dicapai jika seseorang selalu dekat kepada Tuhan-Nya. Agama juga tidak melarang orang untuk menjadi kaya, bahkan dianjurkan. Karena dengan kekayaan seseorang bisa memberdayakan yang lain.

Seperti kata Ibnu al-Qayyim, “Selama harta itu hanya ada di tanganmu, dan tidak sampai ke hatimu, maka harta itu tidak akan memberikan pengaruh kepadamu, meskipun banyak. Namun jika harta itu bersemayam di hatimu, dia akan membahayakan dirimu, meskipun di tanganmu tidak ada harta sedikit pun.”

Tentu kita tidak sedang menyalahkan warga Tuban dan Kuningan yang memborong puluhan mobil dan sepeda motor begitu mereka kaya mendadak. Siapa tahu kendaraan-kendaraan itu untuk memberdayakan orang-orang sekitar. Hanya mengingatkan, bahwa kekayaan juga merupakan bentuk ujian dari Tuhan.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...