7 Alasan Kenapa Kurban Tidak Sama dengan Sesajen

Ibadah kurban memiliki makna ketauhidan yang sangat tinggi. Lebih-lebih, jika menilik sejarah disyariatkannya, ketika Nabi Ibrahim as diperintahkan oleh Allah Swt menyembelih anak semata wayangnya, Ismail as.

Betapa dibutuhkah keikhlasan serta keimanan yang sangat besar kepada ketentuan Allah Swt, ketika seorang anak yang telah puluhan tahun ditunggu kehadirannya, harus dikembalikan kepada Sang Pemilik dengan cara menyembelihnya.

Apa yang didapat oleh Ibrahim as atas keikhlasannya? Kemuliaan. Ya, bukankah Ibrahim as kemudian dikenal sebagai bapaknya para Nabi, dan menjadi sumber bagi agama-agama samawi di masa berikutnya.

Saat itu juga, malaikat mengganti posisi Ismail as dengan seekor domba. Itulah balasan atas keimanan serta ketulusan Ibrahim terhadap perintah Allah Swt.

Oleh karena itu, ibadah kurban selain bermakna pengorbanan, juga memiliki arti mendekat kepada Allah Swt, dari kata bahasa Arab “qaraba”.

Perlu diketahui, ber-kurban tidak sama dengan melakukan sesajen seperti yang dilakukan sejumlah tradisi di masyarakat, seperti melarung kepala kerbau ke laut.

Dalam sosiologi agama, seperti ditulis oleh Guru Besar UIN Riau Prof. Dr. M. Arrafie Abduh, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dikenal setidaknya tiga cara pengorbanan: Monoteisme etis, sacramental dan sacrificial.

Islam adalah agama monoteisme etis, yang mengajarkan tauhid dan taqarrub, yaitu pendekatan kepada Allah Swt melalui amal-amal saleh.

Sementara, agama sacramental, mengajarkan bahwa keselamatan dapat diperoleh seseorang dengan mengikuti ritual suci, dan menurut agama sacrificial, pendekatan kepada Tuhan itu bisa melalui sajian-sajian (sesajen), pengorbanan berupa binatang atau bahkan manusia.

Bagi Islam berkurban pada hari raya Idul Adha adalah tindakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, dan tidak bisa disamakan dengan sesajen (sacrificial), setidaknya karena tujuh alasan:

Pertama, ibadah kurban adalah untuk memperingati dan meneladani ketulusan sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, yaitu Nabi Ibrahim, Siti Hajar istrinya, dan Ismail putranya, yang menunjukkan kesetiaan dalam mewujudkan tujuan hidup bertakwa kepada Allah Swt.

Kedua, Alquran menegaskan, bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging atau darah hewan kurban itu, melainkan takwa dari orang-orang yang melakukannya. Jadi, sekali lagi ini bukan persembahan.

Dalam surah al-Hajj ayat 37 dijelaskan bahwa, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).”

Ketiga, takwa yang dicapai lewat ibadah kurban seharusnya melahirkan manusia-manusia yang memiliki kesadaran penuh tentang konsekuensi dari segara amal perbuatan di dunia, yang akan berbalas di akhirat kelak. Dengan demikian, ia akan menjadi sosok yang bertanggung jawab dengan segala perbuatannya, baik kepada Tuhan maupun kepada lingkungan sosialnya.

Keempat, kurban adalah ibadah untuk menanamkan pendidikan sosial, yaitu berbagi kebahagiaan kepada kaum fakir miskin.

Kelima, kerja keras dan pengorbanan adalah dua hal yang harus dilalui seorang manusia untuk meraih kesuksesan. Keduanya harus dibarengi dengan nilai-nilai ibadah kurban, yaitu sikap sabar, berlapang dada, tahan penderitaan untuk mencapai kemuliaan.

Keenam, secara sosiologis dan antropologis agama adalah simbol. Di balik simbol terdapat hikmah yang sangat dalam dan mendasar. Demikian pula ibadah kurban. Dalam melaksanakannya harus disertai dengan pemahaman dan perenungan yang mendalam bahwa kita tidak boleh tertipu oleh kesenangan dunia yang bersifat sesaat, lalu melupahan kehidupan abadi.

Rasulullah Saw bersabda, “Orang bijak adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya (untuk kepentingan sesaat) dan beramal untuk sesudah mati (untuk kepentingan abadi), sedangkan orang yang lemah (mentalnya) memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan agar Allah memperkenankan angan-angannya (yang tidak mungkin terjadi, karena ia tidak mau berkorban dan bermujahadah),” (HR Tirmidzi).

Ketujuh, seorang Mukmin pantang berputus asa pada saat ditimpa penderitaan sehingga kehilangan gairah hidup. Sebab sejatinya, tidak seorang pun manusia yang bisa benar-benar bebas dari penderitaan, sekurang-kurangnya situasi yang tidak menyenangkan.

Itulah nilai-nilai keteladan dalam ibadah kurban yang dicontohkan Nabi Ibrahim as dan puteranya Ismail as. Nilai-nilai yang hanya semata untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt bukan selain-Nya, dan tak lain merupakan tujuan dari tasawuf.

Tasawuf sendiri, selalu menanamkan kesadaran akan hadirnya Tuhan di dalam kehidupan. “Inni qarib”, Aku, kata Tuhan, sangat dekat (QS. al-Baqarah ayat 185), dan Dia selalu mengawasi segala tingkah laku manusia.

“Dia beserta kamu di mana pun kamu berada dan Dia mengetahui segala sesuatu yang kamu kerjakan,” (QS. Al-Hadad ayat 4).

Baca Lainnya
Komentar
Loading...