5 Pertanyaan tentang Covid-19 yang Masih Jadi Misteri

Sudah sekitar 6 bulan pandemi virus Corona berlalu, namun ilmu pengetahuan masih digelayuti banyak misteri tentang virus tersebut.

Covid-19 bermula pada akhir Desember 2019, ketika dilaporkan tentang pneumonia misterius di Wuhan, Cina, sebuah kota berpenduduk 11 juta orang di provinsi tenggara Hubei.

Enam bulan berlalu, telah lebih dari 10 juta kasus terkonfirmasikan, Covid-19 juga telah menjadi krisis kesehatan masyarakat terburuk dalam satu abad terakhir. Lebih dari 500 ribu orang tewas di seluruh dunia.

Penelitian terakhir, yang masih sedang dikonfirmasi oleh WHO, ditemukan bahwa penyebaran virus ini bisa melalui udara (airborne), padahal sebelumnya melalui droplet yang terciprat lewat mulut dan hidung.

Kenapa terjadi seperti itu? Semua masih menjadi misteri yang sampai sekarang masih sedang dicari oleh penelitian-penelitian yang berbasis ilmu pengetahuan.

Secara umum para ilmuwan, paling tidak memiliki 5 pertanyaan mendasar tentang Covid-19, dari mulai soal kekebalan hingga peran genetika, yang jawabannya masih menjadi misteri. Sebagian mulai terungkap, tapi sebagian lagi masih terus didalami.

Berikut 5 pertanyaan tersebut dan penjelasannya sebagaimana dikutip Nature.com:

Pertama, kenapa orang merespons virus Corona dengan sangat berbeda?

Salah satu yang paling mencolok dari virus Corona adalah adanya respon yang sangat berbeda-beda ketika terinfeksi virus tersebut.

Beberapa orang, bahkan tidak mengalami gejala sama sekali, padahal yang lain ada yang mengalami pneumonia parah, bahkan fatal.

“Perbedaan hasil klinisnya sangat dramatis,” kata Kari Stefansson, ahli genetika dan kepala eksekutif DeCODE Genetics di Reykjavik. Ia dan timnya terus mencari varian gen manusia yang mungkin bisa menjelaskan, kenapa terjadi perbedaan tersebut.

Bulan lalu, sebuah tim internasional yang menganalisis genom sekitar 4.000 orang dari Italia dan Spanyol menemukan kaitan yang kuat antara genetik dengan penderita Covid-19 yang parah. Menurut penemuan tersebut, orang yang mengalami gagal nafas cenderung membawa satu dari dua varian gen tertentu, ketimbang orang tanpa penyakit atau gejala.

Sejumlah tim ilmuwan lain masih berkejaran dengan waktu, berupaya memecahkan misteri tersebut.

Kedua, kekebalan seperti apa dan berapa lama bertahan?

Ahli imunologi sejauh ini bekerja cepat menentukan seperti apa kekebalan terhadap Covid-19, dan berapa lama kekebalan tersebut bisa bertahan.

Sebagian besar upaya difokuskan pada antibodi penawar, yang mengikat protein virus dan secara langsung dapat mencegah infeksi.

Penelitian menemukan bahwa kadar antibodi penawar terhadap Covid-19 tetap tinggi selama beberapa minggu setelah terinfeksi, tapi biasanya kemudian mulai berkurang.

Antibodi mungkin bisa bertahan lebih lama pada orang yang memiliki infeksi parah. “Semakin banyak virus, semakin banyak antibodi, dan semakin lama mereka akan bertahan,” kata ahli imunologi George Kassiotis dari Francis Crick Institute, London.

Para peneliti belum mengetahui tingkat antibodi penetral seperti apa yang diperlukan untuk melawan infeksi ulang Covid-19, atau setidaknya untuk mengurangi gejala. Mungkin antibodi lain penting untuk kekebalan itu.

Ketiga, apakah virus mengalami mutasi mengkhawatirkan?

Pada dasarnya semua virus bermutasi saat menginfeksi manusia, termasuk Covid-19. Ahli epidemiologi molekuler telah menggunakan mutasi ini untuk melacak penyebaran virus secara global.

Tapi para ilmuwan juga sedang mencari misteri perubahan-perubahan yang mempengaruhi sifat-sifatnya, misalnya dengan membuat beberapa garis, dari keturunan yang lebih atau kurang ganas, atau yang menular.

“Ini adalah virus baru, jika memang menjadi lebih parah, itu adalah sesuatu hal yang pasti ingin Anda ketahui,” kata David Robertson, ahli biologi komputasi di University of Glasgow, Inggris. Saat ini, timnya sedang membuat katalog mutasi SARS-CoV-2 alias Covid-19.

Kenapa ini penting? Sebab, mutasi virus berpotensi mengurangi efektivitas vaksin. Meskipun pada kebanyakan virus tidak akan berdampak. Tapi bukankah lebih baik mengantisipasi?

Mutasi virus Corona pada awalnya ditemukan sekitar Februari di Eropa, dan sekarang ditemukan di setiap wilayah di dunia.

Serangkaian penelitian menunjukkan mutasi ini membuat virus Corona menjadi lebih menular di wilayahnya, tapi belum jelas bagaimana sifat ini kemudian menginfeksi manusia.

Keempat, bagaimana vaksin akan bekerja?

Vaksin yang efektif barangkali merupakan satu-satunya jalan keluar dari pandemi Covid-19 ini.

Saat ini, ada sekitar 200-an vaksin sedang dalam pengembangan di seluruh dunia, dengan sekitar 20-an dalam uji klinis.

Uji coba nantinya akan membandingkan tingkat infeksi Covid-19 antara orang yang mendapatkan vaksin dan mereka yang menerima plasebo.

Secara data, memang sudah ada petunjuk dari studi terhadap hewan dan uji coba manusia pada tahap awal, terutama pengujian keamanan.

Uji coba pada monyet di Inggris misalnya, menunjukkan vaksin mungkin bekerja baik untuk mencegah infeksi paru-paru yang mengakibatkan pneumonia, tapi tidak pada penyumbatan infeksi di tempat lain di tubuh, seperti hidung.

Data uji coba pada manusia, meskipun baru sedikit, tapi sudah menunjukkan, vaksin Covid-19 mendorong tubuh untuk membuat antibodi penawar yang kuat yang dapat memblokir virus menginfeksi sel.

Tapi apakah kadar antibodi ini cukup tinggi untuk menghentikan infeksi baru? Inilah yang masih menjadi misteri.

Kelima, dari mana asal muasal virus?

Meski sudah berlangsung 6 bulan namun pertanyaan dari mana asal-usul virus masih terus menjadi pembahasan, seolah masih tertutup kabut misteri.

Sebagian besar peneliti sepakat virus ini kemungkinan berasal dari kelelawar. Tapi masih ada perbedaan pandangan soal hewan perantara sebelum menular pada manusia. Ada yang mengatakan musang, ada juga yang mengatakan trenggiling. Hewan-hewan lain juga ikut diliti seperti anjing, kucing, dan lain-lain.

Selain disikapi dengan penelitian ilmu pengetahuan, penyakit yang menjadi wabah sekarang ini juga tentu saja harus disikapi dengan keimanan.

Dari segi keimanan, penyakit yang merupakan takdir Allah Swt bagi manusia, sama halnya dengan kematian. Kapan ia datang dan kapan ia pergi, menurut kehendak-Nya.

Allah berfirman dalam Alquran surah al-Ana’m ayat 17:

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang (sanggup) menghilangkannya kecuali Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.”

Tugas kita, selain ikhtiar ilmu pengetahuan, juga jangan lupa untuk berdoa. Kata Ibnu al-Qayyim, “Doa adalah obat paling bermanfaat. Dia adalah musuhnya bala musibah, menghindarkan dan mengatasinya serta menolak turunnya musibah.” Wallahu a’lam.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...