3 Tips Kembangkan Pola Pikir ‘Fluks’, Melihat Perubahan sebagai Peluang

Dua tahun terakhir ini menjadi pembelajaran berharga tentang arti sebuah perubahan dan ketidakpastian. Orang-orang mendefinisikan ulang aturan di tempat kerja dan membuat norma baru dalam komunikasi.

Nah Anda sendiri mungkin pernah mengalami gelombang ketidakpastian tentang pekerjaan atau masa depan perusahaan. Anda sendiri mungkin pernah memiliki impian yang hancur.

Secara umum, orang bisa belajar untuk dapat beradaptasi. Tapi kebanyakan orang harus dipaksa untuk beradaptasi. Pandemi Covid-19 telah menjungkirbalikkan dunia kita. Kita hampir tidak punya banyak pilihan. Orang-orang, termasuk Anda, mungkin sedang menunggu dengan tidak sabar kapan semua perubahan dan ketidakpastian ini berakhir.

Percayalah, perubahan masih belum berakhir, bahkan semakin cepat. Tahun lalu mungkin terasa seperti sprint bagi sebagian orang. Sekarang kita menyadari bahwa kita berlari maraton bersama ketidakpastian. Tapi bagaimanapun, bukankah perubahan itu akan selalu ada? Selamanya. Baca juga >>

Ini artinya, kita membutuhkan cara berpikir besar dalam melihat dan merespon perubahan, yaitu yang disebut Pola Pikir Fluks: Kemampuan untuk secara konsisten melihat perubahan sebagai peluang, bukan ancaman.

Baik Anda sebagai pemimpin organisasi, mengelola tim, atau hanya mencoba memetakan perjalanan profesional Anda sendiri, berikut tiga tips tentang cara mengembangkan Pola Pikir Fluks, dikutip dari Inc.com:

1. Menempatkan pola pikir sebelum strategi

Strategi organisasi biasanya hanya fokus pada “manajemen perubahan” sebagai seperangkat sistem, proses dan keputusan. Ini biasanya tidak termasuk keadaan pikiran manajer itu sendiri.

Apakah Anda merasa penuh harapan, takut, atau cemas? Apakah Anda akan membuat keputusan yang berbeda atau menetapkan strategi yang berbeda jika Anda merasa berbeda?

Nah, ketika kita fokus pada sistem atau keputusan eksternal, tanpa mengenali peran penting dari keadaan pikiran internal kita, itu seperti menyiapkan kereta sebelum ada kudanya.

Keberhasilan menavigasi, mengelola dan memimpin adalah melalui perubahan yang berasal dari dalam ke luar.

2. Memaknai Ulang tentang Mengendalikan Masa Depan

Salah satu hal yang diajarkan dunia yang terus berubah ini adalah bahwa keyakinan kita tentang masa depan yang bisa dikendalikan ternyata hanyalah ilusi.

Faktanya, Anda atau siapa pun tidak dapat mengendalikan apa yang terjadi sore ini, apalagi tahun depan. Apa yang dapat Anda kendalikan sejatinya hanyalah bagaimana cara Anda meresponnya.

Anda tidak dapat mengontrol hasil, tapi Anda dapat mengontrol apa dan bagaimana berkontribusi terhadap hasil yang Anda lihat.

Pemimpin yang hebat mengakui apa yang tidak mereka ketahui, dan apa yang tidak dapat mereka kendalikan. Baca juga >>

Dengan begitu mereka berusaha keras mencari kejelasan visi ketimbang kepastian hasilnya. Mereka juga meminta bantuan orang lain, membuka lebih banyak pilihan dan kreativitas dalam prosesnya.

3. Berpikir secara kolektif

Kata “fluks” sendiri adalah kata benda dan kata kerja. Sebagai kata benda, ia berarti “perubahan konstan”. Sebagai kata kerja, artinya “belajar menjadi cair”.

Ada banyak hubungan berbeda, karena masing-masing kita memiliki pengalaman yang berbeda terhadap perubahan.

Terlalu sering, kita berasumsi bahwa orang lain berpikir sama seperti kita tentang perubahan dan ketidakpastian.

Asumsi ini paling berisiko dan seringkali berbahaya, terutama ketika perubahan tak terduga terjadi.

Banyak tim berjuang untuk bekerja sama, dan para pemimpin berjuang untuk menginspirasi, bukan karena mereka tidak setuju tentang tujuan, tapi karena mereka memiliki pikiran dan perasaan yang berbeda terhadap perubahan itu sendiri.

Perusahaan berkinerja tinggi memahami ketegangan ini selalu terjadi dan berusaha membantu semua talenta mengembangkan Pola Pikir Fluks.

Dunia masih akan terus berubah selama beberapa dekade mendatang. Maka saatnya untuk berpikir kembali, membicarakan, dan akrab dengan perubahan. Siapkah Anda untuk berpikir fluks?

Baca Lainnya
Komentar
Loading...